BUBK Kebumen Terapkan Sistem Berkelanjutan
Sementara itu, Tb Haeru Rahayu selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budi Daya KKP RI menjelaskan pengembangan BUBK Kebumen menerapkan Cara Budi Daya Ikan yang Baik (CBIB). Yang mana, CBIB adalah standar nasional yang mengatur proses produksi perikanan secara efisien, aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Kawasan seluas 100 hektare itu mempunyai area terbangun 65 hektare, terdiri atas 139 petak produksi, 50 petak tandon, dan 17 petak Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dengan luas kolam efektif mencapai 24 hektare.
“BUBK Kebumen membuktikan, peningkatan produksi dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sistem intake, tandon, saluran masuk dan keluar air yang terpisah, serta IPAL menjadi bagian yang penting. Terutama, dalam menjaga kualitas air dan keberlanjutan produksi,” tutur Tb Haeru Rahayu.
Selain itu, operasional kawasan telah memasuki masa transisi dari siklus kedelapan menuju siklus kesembilan. Panen perdana yang berlangsung pada 23 Mei 2026 menghasilkan 89,5 ton udang dari 32 petak. Sedangkan untuk panen kedua, KKP RI menargetkan produksi mencapai 75 ton dari 37 petak. Adapun untuk panen tahap akhir pada pengujung Juli 2026, proyeksinya adalah 90 ton dari 70 petak. “Sehingga, total produksi siklus kedelapan mencapai sekitar 254,5 ton,” ujar Tb Haeru Rahayu.
Keberadaan kawasan tambak tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas ketimbang peningkatan produksi semata. Selain menyerap 645 tenaga kerja lokal yang terdiri atas 145 pekerja tetap dan 500 pekerja harian lepas, aktivitas BUBK Kebumen mendorong pertumbuhan usaha pendukung. Muai dari warung makan, toko kebutuhan harian, penyedia sarana produksi tambak, jasa transportasi, hingga penginapan yang membuat masyarakat sekitar merasakan langsung manfaat ekonomi kawasan. (ADR)






























