JAKARTA, AFU.ID — Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah (Jateng) memanen 46 ton udang vaname per Mei 2026.
Melansir website resmi Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) pada Sabtu (16/5/2026), jumlah tersebut berasal dari panen parsial pada 32 petakan tambak.
Panen kali ini merupakan siklus produksi ke delapan dengan harapan menjadi pendorong tumbuhnya industri udang nasional yang modern dan berkelanjutan.
Performa impresif sektor perikanan budi daya tersebut pun menghadirkan optimisme KKP RI dalam mengincar penjualan ke pasar global.
“Alhamdulillah, produksi terus meningkat dan kualitas udang sangat baik,” ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budi Daya KKP RI, Tb Haeru Rahayu.
“Ini bukti bahwa sistem budidaya yang kita jalankan sudah sesuai standar, termasuk pengelolaan lingkungan melalui IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah, red),” sambungnya.
Tb Haeru Rahayu menyampaikan, produksi BUBK Kebumen terus menunjukkan tren positif secara bertahap sejak beroperasi pada 9 Maret 2023 lalu.
Memasuki siklus kedelapan, panen parsial dari total 139 kolam telah dilakukan sebanyak tiga kali.
Rinciannya, masing-masing periode panen mencatat sebesar 12 ton, lalu 15 ton, dan 19 ton.
Secara akumulatif, total produksi sementara mencapai 46 ton dari 32 petak tambak, dengan ukuran udang berkisar 35-40.
Selain kuantitas, KKP RI memastikan kualitas udang unggul, memenuhi standar pasar, dan menarik minat pembeli yang datang langsung ke lokasi.
Kondisi tersebut menjadi indikator kuat atas keberhasilan sistem budi daya yang efisien dan terkontrol.
Menteri KKP RI, Sakti Wahyu Trenggono pun optimistis industri udang nasional akan terus tumbuh.
“Ini juga seiring dengan tingginya permintaan pasar global terhadap udang vaname,” tuturnya.
Oleh karena itu, KKP RI berkomitmen melahirkan sejumlah program untuk peningkatan produktivitas pembudidaya.
Salah satunya modeling budi daya udang berbasis kawasan yang proses produksinya mengedepankan teknologi dan ramah lingkungan. (ADR)