JAKARTA, AFU.ID – Kelebihan pasokan ayam dan telur masih terjadi, terutama di Pulau Jawa, ketika harga di tingkat peternak belum merata antarwilayah. Pemerintah menyiapkan ekspor ke China dan Timur Tengah untuk memperluas penyerapan produksi. Kementerian Pertanian juga mengandalkan distribusi antardaerah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menyerap komoditas tersebut di dalam negeri.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut kelebihan pasokan sebagai “good problem” karena produksi unggas nasional berada dalam kondisi baik. Namun, pemerintah masih harus menyeimbangkan pasokan dengan kebutuhan pasar. “Tinggal bagaimana kita mengelola supply, demand, distribusi, serta memastikan pasokan tersebar merata ke seluruh wilayah,” kata Sudaryono dalam keterangannya, Sabtu (18/7/2026).
Untuk memperluas pasar, Kementan membuka peluang ekspor produk unggas ke China dan sejumlah negara di Timur Tengah. Sudaryono mengatakan pemerintah perlu membangun hubungan antarnegara agar produk Indonesia dapat memasuki pasar tujuan. “Ekspor bukan hanya soal harga dan kualitas produk. Ada proses diplomasi antarnegara yang harus dibangun,” ujarnya.
Sambil menjajaki pasar ekspor, pemerintah berupaya menyalurkan kelebihan produksi dari Pulau Jawa ke daerah yang masih membutuhkan. Kementan juga berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk meningkatkan penggunaan ayam dan telur dalam program MBG. Langkah tersebut diharapkan membantu penyerapan ketika harga kedua komoditas itu turun di tingkat peternak.
Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per 14 Juli 2026 mencatat rata-rata harga ayam broiler nasional mencapai Rp21.736 per kilogram berat hidup. Angka itu naik 4,11 persen dari pekan sebelumnya yang berada di Rp20.878 per kilogram. Namun, Sumatera Selatan masih mencatat harga Rp18.125 per kilogram, sedangkan Riau mencapai Rp25.600 per kilogram.
Harga telur ayam ras juga belum mencapai Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat peternak sebesar Rp26.500 per kilogram. Rata-rata harga nasional mencapai Rp22.644 per kilogram atau naik 0,66 persen dalam sepekan. Banten mencatat harga terendah sebesar Rp20.300 per kilogram, sedangkan Sulawesi Utara mencatat harga tertinggi Rp28.200 per kilogram. Pada Maret 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melepas ekspor 545 ton produk unggas dan turunannya senilai Rp18,2 miliar. Indonesia mengirim produk tersebut ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste. Namun, Sudaryono belum memerinci target volume, jenis produk, dan jadwal ekspor ke China maupun Timur Tengah. (FAD)