JAKARTA, AFU.ID – Harga minyak mentah dunia mulai turun setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mereda. Namun, harga bahan bakar minyak atau BBM nonsubsidi jenis Pertamax di dalam negeri belum ikut mengalami penyesuaian. Kondisi ini memunculkan pertanyaan karena pemerintah sebelumnya menyatakan harga BBM nonsubsidi pada prinsipnya mengikuti pergerakan harga minyak dunia.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak dunia pada Kamis (25/6/2026) sudah turun mendekati level sebelum perang Iran. Brent futures turun ke level US$72,52 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di US$69,32 per barel. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan saat PT Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter per 10 Juni 2026, serta Pertamax Green dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Saat kenaikan harga BBM nonsubsidi itu dilakukan, Brent berada di level US$93,10 per barel dan WTI di US$90,03 per barel. Kenaikan Pertamax dilakukan ketika harga minyak dunia melonjak akibat ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel. Namun, setelah ketegangan mereda dan harga minyak mulai turun, harga Pertamax belum ikut terkoreksi.
Sebagai perbandingan, penurunan harga minyak global sudah diikuti penyesuaian harga BBM di Filipina. Dikutip dari GMA News, Departemen Energi Filipina atau DOE mencatat perusahaan ritel BBM di negara tersebut mulai menurunkan harga pada Selasa (23/6/2026). Bensin turun 3,90 sampai 5,90 peso Filipina per liter, diesel turun 9,04 sampai 11,04 peso per liter, dan kerosene turun 9,82 sampai 11,82 peso per liter. Penurunan itu dilakukan setelah hubungan Amerika Serikat dan Iran disebut mulai stabil usai adanya nota kesepahaman gencatan senjata.
Jawabannya terletak pada mekanisme pembentukan harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax tidak langsung mengikuti harga minyak mentah harian, tetapi dihitung secara berkala dengan mempertimbangkan rata-rata harga produk minyak internasional, nilai tukar rupiah, biaya distribusi, pajak, margin, hingga keekonomian badan usaha.
Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan penurunan harga minyak dunia yang berlangsung konsisten akan berdampak pada harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya. Namun, harga di SPBU tidak berubah setiap hari seperti harga komoditas di pasar global. Rahma menjelaskan, evaluasi harga Jenis BBM Umum dilakukan secara berkala setiap awal bulan.
Perhitungan itu mengacu pada rata-rata harga minyak atau produk minyak internasional seperti Mean of Platts Singapore, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode sebelumnya. “Penurunan harga minyak yang terjadi pada pertengahan hingga akhir Juni baru akan tercermin pada penyesuaian harga awal Juli,” jelas Rahma, dikutip dari Jawa Pos.
Selain harga minyak, kurs rupiah juga menjadi faktor dalam pembentukan harga BBM. Sebab, transaksi minyak mentah dan produk turunannya menggunakan dolar AS. Karena itu, pelemahan rupiah dapat membuat biaya impor dalam rupiah tetap tinggi meski harga minyak dunia mulai turun. Rahma mengatakan, apabila harga minyak turun tetapi rupiah melemah terhadap dolar AS, ruang bagi Pertamina untuk menurunkan harga BBM secara signifikan bisa menjadi terbatas.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, juga menyebut harga BBM yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah. Menurut dia, harga BBM merupakan gabungan dari harga produk BBM jadi di pasar kawasan, nilai tukar rupiah, biaya pengadaan, penyimpanan, distribusi, margin badan usaha, serta pajak.
“Harga BBM di Indonesia tidak selalu mengikuti harga minyak dunia secara langsung, karena harga yang dibayar masyarakat di SPBU bukan hanya ditentukan oleh harga minyak mentah semata,” kata Josua, Rabu (17/6/2026), dikutip dari Beritasatu.
Berdasarkan perhitungan Bank Permata, harga keekonomian Pertamax saat ini berada di kisaran Rp16.500 per liter. Sementara harga jual Pertamax yang berlaku berada di level Rp16.250 per liter. Dengan perhitungan tersebut, harga Pertamax masih sekitar Rp250 per liter di bawah harga keekonomian. “Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina,” ucap Josua.
Harga Lama Belum Tentu Kembali
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM sebelumnya menyatakan harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax, mengikuti harga keekonomian dan perkembangan pasar energi global. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan harga BBM nonsubsidi memiliki peluang turun apabila harga minyak dunia juga turun.
“Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun,” ujar Anggia di Auditorium Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Namun, penurunan harga tetap bergantung pada evaluasi berkala dan komponen pembentuk biaya. ESDM juga membedakan mekanisme harga BBM subsidi dan nonsubsidi. Pertalite dan Solar subsidi dijaga pemerintah melalui intervensi fiskal, sementara Pertamax, Dex Series, dan BBM nonsubsidi lainnya mengikuti harga keekonomian. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyatakan penurunan harga minyak dunia dapat berdampak pada harga Pertamax dan BBM nonsubsidi lainnya.
Menurut dia, meredanya ketegangan di Timur Tengah memberi sentimen positif bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. “Saya yakin, dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun, sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPD di Jakarta, Senin (22/6/2026).
Purbaya menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia sebelumnya membuat pemerintah melakukan penyesuaian pada sebagian harga BBM nonsubsidi. Namun, harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan. Pakar ekonomi energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyaki, mengatakan penurunan harga minyak dapat berdampak pada harga BBM nonsubsidi, termasuk Pertamax. Namun, penurunan itu tidak langsung mengembalikan Pertamax ke level sebelum kenaikan.
“Pasti terjadi penurunan harga, dan bisa berdampak ke Pertamax, tetapi untuk mencapai harga Pertamax sampai Rp12.300 lagi tidak akan secepat itu,” kata Yayan. Menurut Yayan, penurunan harga energi biasanya berlangsung bertahap. Harga minyak Brent juga masih menjadi indikator yang perlu dicermati. Jika tren pelemahan berlanjut hingga awal Juli 2026, ruang penurunan harga BBM nonsubsidi dapat semakin terbuka.
Dengan demikian, harga Pertamax belum turun bukan karena harga minyak dunia tidak melemah. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi masih menunggu evaluasi berkala yang memperhitungkan rata-rata harga minyak, harga produk BBM internasional, kurs rupiah, pajak, biaya distribusi, margin, dan keekonomian badan usaha. (FAD)