AFU.id

Pasokan Global Mulai Pulih per Juni 2026, Harga Minyak Mentah Indonesia Turun USD23,11

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Harga minyak mentah Indonesia mengalami penurunan signifikan pada Juni 2026, dengan rata-rata mencapai USD83,45 per barel, turun USD23,11 dibandingkan Mei 2026, akibat meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah dan perbaikan pasokan global. Penurunan ini dipengaruhi oleh peningkatan produksi dari negara-negara OPEC+ dan proyeksi permintaan minyak dunia yang moderat, sementara Kementerian ESDM RI memperkirakan harga akan kembali turun pada Juli 2026, berada di kisaran USD67 hingga USD71 per barel. Meskipun kondisi pasar menunjukkan perbaikan, risiko gejolak harga tetap ada akibat potensi gangguan produksi dan perubahan kebijakan dari negara penghasil minyak.

Pasokan Global Mulai Pulih per Juni 2026, Harga Minyak Mentah Indonesia Turun USD23,11
Ilustrasi kilang minyak. (Foto: Magnific/nikitabuida)

Harga Minyak Mentah Indonesia Diproyeksikan Turun Lagi pada Juli 2026

Kementerian ESDM RI bahkan memperkirakan ICP Juli 2026 berada pada kisaran USD67 hingga USD71 per barel. Proyeksi itu tetap perkembangan pasokan global, tingkat permintaan, dan dinamika geopolitik global yang dapat berubah sewaktu-waktu. Data Kementerian ESDM RI menunjukkan tren penurunan juga terjadi pada berbagai harga acuan minyak dunia selama Juni 2026.

Mulai dari Brent di Intercontinental Exchange (ICE) turun dari USD103,71 menjadi USD84,98 per barel. Kemudian West Texas Intermediate (WTI) di Nymex melemah dari USD98,51 menjadi USD82,41 per barel. Ada pula Dated Brent turun dari USD107,55 menjadi USD86,13 per barel. Sedangkan, Basket OPEC terkoreksi dari USD114,55 menjadi USD91,03 per barel berdasarkan data 28 Juni 2026.

“Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik. Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional. Sehingga, tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas,” tutur Laode Sulaeman.

Meredanya konflik di Timur Tengah memberi ruang bagi normalisasi harga minyak dunia, tetapi risiko gejolak belum sepenuhnya hilang. Potensi gangguan produksi akibat eskalasi baru maupun perubahan kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak akan tetap menjadi faktor penentu arah harga minyak mentah Indonesia pada periode berikutnya. Bahkan, turut memengaruhi stabilitas penerimaan negara dan ketahanan energi nasional. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi