JAKARTA, AFU.ID - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang, Banten, mengembangkan program hilirisasi industri berbasis pemanfaatan limbah sisa pembakaran batu bara atau fly ash and bottom ash (FABA) untuk memproduksi bahan konstruksi bernilai ekonomi.
Kepala Lapas Tangerang, Beni Hidayat, saat ditemui di Tangerang, Selasa, menjelaskan bahwa program pembinaan produktif ini melibatkan 72 warga binaan. Mereka memproduksi berbagai bahan bangunan seperti paving block, bataton press, roster, pagar panel, modul rumah, hingga tetrapod pemecah ombak.
“Keunggulan utama dari produk ini terletak pada efisiensi biaya dan waktu konstruksi,” kata Beni.
Tetrapod sendiri merupakan struktur beton berbentuk empat kaki yang digunakan sebagai pemecah gelombang (breakwater).
Ia menjelaskan, produk bahan bangunan tersebut dikembangkan melalui pembinaan oleh Jawara Beton dengan memanfaatkan limbah pembakaran batu bara dari PLTU yang dikelola PLN (Persero).
Program ini merupakan inisiatif Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bersama Direktur Utama PLN (Persero) pada tahun 2025.
Sejak berjalan, produksi bahan konstruksi ini terus berlangsung dan kualitasnya telah masuk ke pasar properti nasional, bahkan diserap oleh pengembang besar seperti PT Summarecon Agung Tbk.
Produk Jawara Beton juga telah digunakan dalam pembangunan perumahan ASN Kementerian Imipas di wilayah Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Menurut Beni, penggunaan limbah sebagai bahan baku membuat harga produk dapat ditekan hingga sekitar 10 persen lebih murah dibanding produk konvensional di pasaran.
Dari sisi waktu pengerjaan, pembangunan struktur rumah yang biasanya membutuhkan 15 hingga 20 hari dapat dipercepat menjadi hanya 8 hingga 15 jam dengan sistem yang dikembangkan Jawara Beton Lapas Tangerang.
“Untuk struktur, fondasi, tiang-tiang, rangka, kolom semua sudah tersedia. Dan bisa disesuaikan dengan desain yang dimiliki konsumen mau tipe berapa rumahnya, sampai 78 kami punya, bertingkat pun bisa, maksimal tingkat dua,” katanya.
Untuk memastikan kualitas, Lapas Tangerang melakukan pengujian kekuatan material secara berkala setiap bulan di Laboratorium PT Wijaya Karya (WIKA). Hasilnya, produk tersebut telah memenuhi standar mutu beton K300.
Dari total 1.500 warga binaan di Lapas Tangerang, hanya 72 orang yang terlibat dalam program Jawara Beton. Mereka dipilih melalui proses asesmen ketat dan mendapatkan pelatihan vokasi dari instruktur PLTU, WIKA, serta HSP Akademi.
Beni menegaskan, pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk memanfaatkan peluang ekonomi setelah bebas nanti.
Program ini juga menjadi bagian dari implementasi 15 program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Dalam pelaksanaannya, Lapas Tangerang menerapkan sistem premi kerja sebagai bentuk apresiasi kepada warga binaan yang terlibat. Mereka menerima upah sebesar Rp2.000 per baki (tray) hasil produksi paving block.
Pembagian hasil dilakukan secara proporsional untuk masa depan warga binaan.
“Sebesar 50 persen dapat diambil langsung untuk kebutuhan harian di dalam lapas, 50 persen sisanya otomatis disisihkan ke dalam tabungan mereka sebagai modal memulai hidup baru,” kata Beni. (FAD)