JAKARTA, AFU.ID — Botol plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan kini diolah menjadi gantungan kunci, replika mainan, dan berbagai suvenir di RW 05 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat. Warga memanfaatkan mesin Filamini untuk mengubah plastik bekas menjadi gulungan filamen yang kemudian dicetak menggunakan printer tiga dimensi. Pengolahan tersebut membuka peluang agar sampah anorganik tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi.
Proses produksi dimulai dengan memilah dan membersihkan botol plastik yang dikumpulkan warga. Botol kemudian dipotong memanjang hingga membentuk lembaran tipis sebelum dimasukkan ke mesin Filamini. Mesin tersebut mengolah potongan plastik menjadi filamen panjang yang dapat digunakan sebagai bahan baku printer 3D. Setelah desain ditentukan, printer mencetak filamen menjadi berbagai bentuk suvenir.
Lurah Cempaka Putih Barat Ani Purnama mengatakan teknologi tersebut membantu warga melihat sampah plastik sebagai material yang masih dapat dimanfaatkan. Peralatan itu juga dapat mendukung kegiatan produktif masyarakat apabila pengolahan dilakukan secara berkelanjutan dan hasilnya memiliki pasar. “Mesin Filamini dan printer 3D sangat bermanfaat bagi warga untuk mengolah sampah anorganik menjadi barang bernilai ekonomis,” kata Ani dalam keterangannya (24/7/26).
Mesin Filamini, printer 3D, dan alat pres sampah diterima kelurahan melalui program kolaborasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bersama Universitas Mercu Buana sekitar dua pekan sebelumnya. Alat pres digunakan untuk memadatkan sampah plastik agar lebih mudah disimpan dan dikelola sebelum diproses lebih lanjut. Kehadiran tiga peralatan tersebut diharapkan mempercepat pengurangan sampah anorganik di lingkungan permukiman.
Program tersebut masih berada pada tahap awal dan belum disertai data mengenai volume botol yang mampu diolah, kapasitas produksi suvenir, maupun pendapatan yang diperoleh warga. Informasi mengenai harga jual dan jalur pemasaran produk juga belum diumumkan. Pengembangan pasar, pelatihan desain, dan konsistensi pasokan sampah akan menentukan apakah kegiatan itu dapat tumbuh menjadi usaha warga yang berkelanjutan. (RHU)