JAKARTA, AFU.ID — Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan populasi mangrove langka di Teluk Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.
Spesies mangrove langka tersebut adalah Camptostemon philippinensis yang masuk kategori terancam punah berdasarkan daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Camptostemon philippinensis sendiri merupakan tumbuhan yang mendapat perlindungan dari pemerintah karena populasinya sangat terbatas, bahkan hanya tersebar di lokasi tertentu seperti Kalimantan dan Sulawesi.
Penemuan Camptostemon philippinensis berada di pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.
Sebelumnya, tim peneliti menyusuri sekitar 200 kilometer kawasan mangrove Teluk Balikpapan, mulai dari Sepaku hingga pesisir Kota Balikpapan.
Pada survei awal, peneliti menemukan satu pohon Camptostemon philippinensis di Pulau Kowangan dab beberapa pohon lagi di Pantai Lango.
Penelusuran lanjutan terlaksana untuk mengetahui jumlah individu dalam populasi tersebut, tahap pertumbuhan, dan distribusi spesies di habitat alaminya.
Hasil penelitian yang didanai BRIN dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi pada 2022 dan RIIM batch II pada 2023-2024 tersebut menunjukkan data sekitar 527 individu Camptostemon philippinensis di kawasan Pantai Lango.
Mayoritas populasi tersebut berupa semaian atau anakan muda sebanyak 452 individu, lalu 49 pohon dewasa, dan 26 pancang.
Kondisi tersebut menunjukkan spesies Camptostemon philippinensis masih mempunyai kemampuan regenerasi alami yang cukup baik, walaupun keberadaannya terbatas pada habitat yang sempit.
“Keberadaan Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan menunjukkan kawasan ini memiliki nilai biodiversitas yang sangat penting dan perlu mendapat perhatian serius dalam upaya konservasi,” ungkap Peneliti Pusat Riset Botani Terapan Istiana Prihatini dikutip AFU.ID dari website BRIN, Minggu (24/5/2026).
Istiana Prihatini menyatakan, populasi Camptostemon philippinensis menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia, mulai dari alih fungsi lahan mangrove, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga pembangunan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Habitat Camptostemon philippinensis sangat terbatas, jika terjadi kerusakan habitat, risiko kepunahan lokal spesies ini akan semakin besar,” tuturnya.
Selain penting bagi ekosistem pesisir, keberadaan Camptostemon philippinensis diduga memiliki hubungan ekologis dengan Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang dilindungi.
Peneliti menemukan indikasi bekas gigitan primata pada daun Camptostemon philippinensis dan informasi keberadaan kelompok Bekantan di sekitar habitat mangrove tersebut dari nelayan setempat yang turut mendampingi kegiatan tim selama di Teluk Balikpapan.
Habitat Camptostemon philippinensis di Teluk Balikpapan berada pada zona mangrove lapis kedua dengan tekstur tanah dominan berpasir dan genangan air yang terjadi saat pasang tinggi.
Di kawasan tersebut, spesies Camptostemon philippinensis tumbuh bersama sejumlah vegetasi mangrove lain seperti Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera littorea, dan Xylocarpus granatum.
Tim peneliti menilai diperlukan langkah konservasi yang lebih kuat untuk melindungi populasi mangrove langka tersebut.
Upaya yang direkomendasikan meliputi perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, hingga pengembangan konservasi ex-situ melalui perbanyakan tanaman.
Penelitian lanjutan mengenai keragaman genetik dan peran ekologis spesies tersebut juga dinilai penting untuk mendukung strategi konservasi jangka panjang di Indonesia. (ADR)