JAKARTA, AFU.ID - Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah ekstrem demi menyelamatkan jutaan peternak mandiri dan peternak rakyat skala kecil dari ancaman gulung tikar. Kementan memutuskan untuk membekukan sementara seluruh rekomendasi usaha di sektor perunggasan akibat anjloknya harga ayam hidup (live bird) di pasaran.
Berdasarkan regulasi, harga acuan ayam hidup di tingkat peternak yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar Rp19.500 per kilogram. Namun, di lapangan, harga komoditas ini jatuh bebas di bawah biaya produksi.
“Informasi yang kami himpun, khususnya di wilayah Jawa Tengah, harga ayam hidup ada yang dijual sampai Rp15.000 per kilogram. Kondisi ini sangat berat bagi peternak mandiri. Jika peternak besar mungkin masih bisa bertahan karena modal kuat, bagi peternak skala kecil situasi ini bisa mempercepat proses bangkrut,” ungkap Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan, I Ketut Wirata, Sabtu (30/5/2026).
Sebagai bentuk ketegasan untuk mengintervensi pasar, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) resmi menahan penerbitan dokumen rekomendasi bagi para pelaku usaha tertentu di sektor perunggasan nasional.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH, Hary Suhada, menegaskan bahwa kebijakan pembekuan izin ini akan terus berlaku sampai harga ayam di tingkat peternak kembali normal sesuai angka acuan pemerintah.
"Kami sudah sepakat, seluruh rekomendasi terkait perunggasan sementara ditunda dulu sampai tercapai harga yang telah ditentukan pemerintah. Kami mohon kolaborasinya, jangan ada pihak yang ikut berkontribusi menekan harga," tegas Hary.
Dalam rapat koordinasi darurat bersama Asosiasi Rumah Potong Unggas Indonesia (ARPHUIN), Kementan meminta komitmen penuh dari pengelola Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU). Sebagai bagian penting dari rantai pasok, RPHU diminta tidak memanfaatkan situasi dengan membeli ayam dari peternak mandiri di bawah harga acuan.
Di sisi lain, para pelaku industri perunggasan mengaku bahwa jatuhnya harga ini dipicu oleh lemahnya daya beli konsumen di tingkat hilir yang berbanding terbalik dengan melimpahnya pasokan ayam hidup di lapangan.
Menanggapi tudingan memainkan harga, Ketua ARPHUIN, Sigit Pambudi, membantah bahwa pihak RPHU sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ia menyatakan situasi pasar saat ini memang sedang sulit bagi semua lini.
“Situasi yang kami hadapi sama-sama sulit, jadi tidak ada euforia mengambil untung di atas penderitaan peternak. Bahkan di hari libur nasional atau tanggal merah, RPHU kami tetap 'gaspol' melakukan pemotongan secara maksimal untuk menyerap ayam dari peternak. Jadi kalau dibilang kami sengaja menekan harga, itu tidak ada,” pungkas Sigit.
Pemerintah menegaskan, stabilitas harga ayam hidup adalah kunci utama agar ekosistem perunggasan nasional tetap tumbuh sehat, adil, dan berkelanjutan bagi peternak rakyat selaku pilar ketahanan pangan.
(ANT/MAR)