JAKARTA, AFU.ID - Industri minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) di dua negara produsen terbesar dunia, Indonesia dan Malaysia, berada dalam bayang-bayang krisis. Kombinasi fenomena iklim El Nino dan gejolak harga bahan bakar minyak (BBM) kini menghimpit operasional perkebunan rakyat serta mengancam stabilitas pasokan minyak nabati global.
Ketegangan geopolitik yang memicu kenaikan harga energi global dan kelangkaan pasokan solar membuat biaya operasional petani swadaya melonjak drastis. Di Sabah dan Sarawak, Malaysia, harga solar nonsubsidi melonjak hingga hampir 120%. Padahal, alokasi BBM bersubsidi dinilai tidak mencukupi untuk wilayah pedalaman.
"Perjalanan mereka membutuhkan konsumsi bahan bakar yang besar. Kuota subsidi solar saat ini, yang dirancang untuk kondisi lahan yang relatif datar dan infrastruktur di Malaysia Barat, tidak memadai untuk wilayah pedalaman Sabah dan Sarawak yang memiliki medan berat," ujar Napolean R Ningkos dari Asosiasi Pekebun Kelapa Sawit Dayak Sarawak, seperti dikutip Asiaone, Minggu (9/8/2026).
"Kendala keuangan akan membuat kegiatan panen menjadi tidak layak secara ekonomi bagi petani swadaya, yang berujung pada penelantaran lahan dan penurunan langsung produktivitas minyak sawit wilayah tersebut," tambahnya.
Kondisi ini memaksa para petani memangkas frekuensi pemanenan tandan buah segar (TBS) karena tingginya biaya logistik dan alat berat. Napolean mengungkapkan bahwa petani kini mengurangi intensitas panen secara signifikan.
"Petani kini telah mengurangi frekuensi panen mereka, dari sekitar 2,5 putaran menjadi dua putaran, bahkan hingga hanya 1,5 putaran atau satu kali panen setiap bulannya," ungkap Napolean.
Sebab, penundaan masa panen di area tersebut diyakini akan memberikan dampak yang berat. "Penundaan masa panen dapat mengurangi hasil panen di Sarawak sebesar 15% hingga 20%," ujar Napolean.
Sementara di Sumatra, Indonesia, para petani terhambat oleh kelangkaan pasokan solar sejak pertengahan Juli. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, membeberkan bahwa masalah BBM tersebut langsung memukul rantai distribusi TBS dari kebun ke pabrik.
"Pengangkutan tandan buah petani terdampak karena semua kendaraan dan peralatan menggunakan mesin diesel," kata Gulat. Keterbatasan solar ini membuat interval panen terpaksa diperpanjang menjadi delapan hingga 12 hari, dibandingkan periode normal yang berkisar delapan hingga 10 hari.
Di saat yang sama, prospek produksi CPO kian mengkhawatirkan dengan hadirnya potensi El Nino pada semester II-2026. Fenomena El Nino memicu penurunan curah hujan ekstrem yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas pohon kelapa sawit. Sebagai catatan historis, El Nino parah pada 2015–2016 lalu berhasil memangkas produksi CPO Malaysia hingga 18% dan Indonesia sebesar 3%.
Kombinasi cuaca ekstrem dan krisis BBM ini berpotensi mengguncang pasokan pasar global. Wilayah Sumatra menyumbang sekitar 55% dari total produksi minyak sawit Indonesia, sedangkan Sabah dan Sarawak menopang 43,9% produksi CPO Malaysia.
Jika gangguan panen akibat BBM mahal dan penurunan hasil dampak El Nino terus berlanjut, penurunan produktivitas di wilayah-wilayah sentra ini dipastikan akan memicu kelangkaan pasokan sekaligus mendorong kenaikan harga CPO di pasar internasional. (MAR)