JAKARTA, AFU.ID — Mogoknya sopir Mikrolet M44 rute Kampung Melayu–Karet membuat antrean penumpang JakLingko di Stasiun Tebet, Jakarta Selatan, menjadi lebih panjang. Warga kehilangan salah satu pilihan angkutan ketika sekitar 150 sopir M44 menggelar demonstrasi di Balai Kota DKI Jakarta. Layanan mikrolet kembali berjalan setelah aksi selesai pada sore hari.
Seorang penumpang bernama Ana mengatakan warga biasanya beralih menggunakan mikrolet ketika JakLingko penuh atau sulit mendapatkan tempat duduk. Ketika M44 tidak beroperasi, lebih banyak penumpang bergantung pada layanan JakLingko dari kawasan Stasiun Tebet. Kondisi tersebut membuat antrean lebih ramai dibandingkan hari biasa.
“Iya, tadi pagi ramai demonya. Antreannya jadi sedikit lebih panjang,” kata Ana, Kamis (06/08/2026). Ia mengaku tetap terbantu oleh JakLingko karena layanan tersebut gratis dan kendaraan tidak terlalu lama menunggu penumpang. Namun, ketiadaan sementara M44 membuat pilihan perjalanan warga menjadi lebih terbatas.
Penumpang lain bernama Jamal juga merasakan antrean yang lebih panjang. Menurut dia, sebagian warga yang biasanya menggunakan mikrolet akhirnya ikut menunggu JakLingko. Antrean tetap bergerak, tetapi jumlah penumpang terlihat lebih banyak daripada biasanya.
Mogok berlangsung ketika para sopir M44 menyampaikan protes terhadap trayek JakLingko 48A di Balai Kota. Mereka menilai rute JakLingko tersebut terlalu banyak melewati jalur yang sama dengan M44 sehingga penumpang memilih layanan gratis. Para sopir mengklaim pendapatan mereka turun sekitar 50 hingga 70 persen sejak kedua layanan beroperasi pada jalur yang berimpitan.
Sopir menyatakan tidak mempersoalkan apabila JakLingko 48A tetap melayani perjalanan menuju Karet. Namun, mereka meminta rutenya dialihkan melalui kawasan lain, seperti Tebet Timur Dalam, agar tidak sepenuhnya bersaing pada jalur M44. JakLingko juga diminta kembali berfungsi sebagai angkutan pengumpan dari permukiman menuju koridor utama.
Selama demonstrasi berlangsung, sejumlah mikrolet kosong terlihat berjejer di sekitar Halte Stasiun Tebet bagian barat. Kendaraan tersebut ditinggalkan sementara karena sopir mengikuti aksi di Balai Kota. Akibatnya, penumpang yang biasa memilih antara M44 dan JakLingko hanya memiliki pilihan angkutan yang lebih terbatas.
Para sopir kembali mengoperasikan mikrolet sekitar pukul 15.00 WIB setelah demonstrasi selesai. Mereka belum memperoleh keputusan mengenai perubahan trayek dan diarahkan membicarakan persoalan tersebut dengan Koperasi Kopamilet Jaya sebagai pihak yang berkaitan dengan pengoperasian JakLingko. Sopir menyatakan akan tetap menarik penumpang sambil menunggu hasil pembahasan lanjutan.
Afu.id sebelumnya memberitakan protes sopir M44 yang mengaku kesulitan memperoleh Rp100 ribu sehari setelah rutenya berimpitan dengan JakLingko 48A. Peristiwa kali ini menunjukkan persoalan tersebut tidak hanya memengaruhi penghasilan sopir, tetapi juga perjalanan warga ketika mikrolet berhenti beroperasi. Pemprov DKI belum mengumumkan apakah rute JakLingko 48A akan diubah atau tetap dipertahankan. (RHU)