AFU.id

Kronologi Warung Babi Guling di Palu Digeruduk Warga Hanya Gara-gara Terlihat Mencolok

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Warung Ajek Tondo yang menjual babi guling di Kelurahan Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian warga setempat setelah dianggap menggunakan penanda usaha yang mencolok dan berlokasi di jalan utama. Keberatan warga, yang mayoritas beragama Islam, bukan terkait dengan aktivitas usaha tersebut, melainkan lebih pada dampak sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar. Meskipun telah dilakukan mediasi sebelumnya untuk memenuhi persyaratan izin usaha, pemilik warung belum berhasil mengumpulkan dukungan dari kepala keluarga yang diperlukan, yang akhirnya memicu aksi warga dan dorongan untuk mengadakan dialog terbuka guna mencari solusi terbaik.

Kronologi Warung Babi Guling di Palu Digeruduk Warga Hanya Gara-gara Terlihat Mencolok
Wwarung Babi Guling Khas Bali di Palu digeruduk warga gara-gara mencolok.

Sebelum aksi warga terjadi, persoalan Warung Ajek Tondo disebut telah dibahas dalam mediasi di Kantor Lurah Tondo sekitar sepekan sebelumnya. Pertemuan tersebut dihadiri lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT, serta pihak pemilik usaha. Dalam mediasi itu, pemilik warung diminta melengkapi sejumlah persyaratan agar dapat menjalankan usaha.

Salah satu syarat yang diminta adalah memperoleh dukungan atau persetujuan dari sekitar 30 kepala keluarga di sekitar lokasi usaha. “Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa pemilik usaha harus melengkapi sejumlah persyaratan, salah satunya memperoleh dukungan atau persetujuan dari sekitar 30 kepala keluarga yang tinggal di sekitar lokasi usaha,” ujar Ismail.

Namun, hingga aksi warga berlangsung, persyaratan tersebut belum terpenuhi. Berdasarkan informasi yang diterima warga, pemilik usaha baru mengumpulkan sekitar 10 tanda tangan. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu alasan warga mendatangi lokasi warung. Meski demikian, warga dan tokoh masyarakat menyatakan persoalan tersebut diharapkan dapat diselesaikan melalui pertemuan terbuka dan musyawarah.

Masyarakat telah meminta Lurah Tondo memfasilitasi dialog lanjutan yang melibatkan warga, pemilik usaha, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak terkait. “Kami meminta agar difasilitasi pertemuan terbuka yang melibatkan masyarakat, pemilik usaha, tokoh masyarakat, dan pihak terkait agar dicari solusi terbaik. Harapannya persoalan ini bisa diselesaikan melalui musyawarah,” kata Ismail. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi