Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Kronologi Warung Babi Guling di Palu Digeruduk Warga Hanya Gara-gara Terlihat Mencolok
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Warung Ajek Tondo yang menjual babi guling di Kelurahan Tondo, Palu, Sulawesi Tengah, menjadi perhatian warga setempat setelah dianggap menggunakan penanda usaha yang mencolok dan berlokasi di jalan utama. Keberatan warga, yang mayoritas beragama Islam, bukan terkait dengan aktivitas usaha tersebut, melainkan lebih pada dampak sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar. Meskipun telah dilakukan mediasi sebelumnya untuk memenuhi persyaratan izin usaha, pemilik warung belum berhasil mengumpulkan dukungan dari kepala keluarga yang diperlukan, yang akhirnya memicu aksi warga dan dorongan untuk mengadakan dialog terbuka guna mencari solusi terbaik.
Wwarung Babi Guling Khas Bali di Palu digeruduk warga gara-gara mencolok.
JAKARTA, AFU.ID - Warung babi guling di Kelurahan Tondo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi sorotan setelah didatangi sejumlah warga. Aksi warga terjadi di Warung Ajek Tondo, Kecamatan Mantikulore, pada Minggu (2/8/2026). Warga mempersoalkan keberadaan warung yang menjual makanan nonhalal itu karena berada di tepi jalan utama dan dinilai menggunakan penanda usaha yang terlalu terbuka. Tokoh masyarakat setempat, Ismail, mengatakan kedatangan warga berlangsung secara spontan. Saat itu, sejumlah warga tengah berkumpul di sekitar lokasi dan membahas keberadaan warung tersebut.
Pembicaraan itu kemudian berujung pada permintaan kepada Lurah Tondo untuk memberikan penjelasan mengenai keberadaan dan kelengkapan izin usaha tersebut. “Kejadian kemarin sebenarnya spontanitas masyarakat, khususnya warga Tondo karena lokasi warung itu berada di wilayah mereka. Saat itu warga sedang berkumpul di sekitar lokasi, lalu muncul pembicaraan mengenai keberadaan warung tersebut. Dari situ masyarakat kemudian menghubungi Lurah Tondo untuk meminta penjelasan,” kata Ismail.
Menurut Ismail, keberatan warga bukan ditujukan terhadap aktivitas pemilik warung dalam mencari nafkah. Warga, kata dia, lebih menyoroti lokasi usaha yang berada di jalan ramai serta penggunaan penanda yang membuat jenis makanan yang dijual mudah terlihat masyarakat. “Perlu saya tegaskan, ini bukan soal seseorang mencari nafkah dan bukan juga soal intoleransi seperti yang banyak disebut di media sosial,” ujarnya.
Ismail mengatakan mayoritas masyarakat di sekitar lokasi beragama Islam. Karena itu, menurutnya, pemilik usaha seharusnya mempertimbangkan kondisi sosial dan keagamaan warga sebelum menentukan cara menampilkan usahanya. Ia mencontohkan usaha serupa yang berada di bagian dalam permukiman dan tidak memasang penanda mencolok. Keberadaan usaha tersebut, menurut Ismail, tidak pernah memicu keberatan dari warga. “Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menghargai masyarakat mayoritas yang tinggal di lingkungan tersebut. Sayangnya di media sosial yang muncul hanya potongan video aksi warga sehingga banyak orang berkomentar tanpa mengetahui duduk persoalan sebenarnya,” katanya.
Sebelum aksi warga terjadi, persoalan Warung Ajek Tondo disebut telah dibahas dalam mediasi di Kantor Lurah Tondo sekitar sepekan sebelumnya. Pertemuan tersebut dihadiri lurah, tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT, serta pihak pemilik usaha. Dalam mediasi itu, pemilik warung diminta melengkapi sejumlah persyaratan agar dapat menjalankan usaha.
Salah satu syarat yang diminta adalah memperoleh dukungan atau persetujuan dari sekitar 30 kepala keluarga di sekitar lokasi usaha. “Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa pemilik usaha harus melengkapi sejumlah persyaratan, salah satunya memperoleh dukungan atau persetujuan dari sekitar 30 kepala keluarga yang tinggal di sekitar lokasi usaha,” ujar Ismail.
Namun, hingga aksi warga berlangsung, persyaratan tersebut belum terpenuhi. Berdasarkan informasi yang diterima warga, pemilik usaha baru mengumpulkan sekitar 10 tanda tangan. Kondisi itu kemudian menjadi salah satu alasan warga mendatangi lokasi warung. Meski demikian, warga dan tokoh masyarakat menyatakan persoalan tersebut diharapkan dapat diselesaikan melalui pertemuan terbuka dan musyawarah.
Masyarakat telah meminta Lurah Tondo memfasilitasi dialog lanjutan yang melibatkan warga, pemilik usaha, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta pihak terkait. “Kami meminta agar difasilitasi pertemuan terbuka yang melibatkan masyarakat, pemilik usaha, tokoh masyarakat, dan pihak terkait agar dicari solusi terbaik. Harapannya persoalan ini bisa diselesaikan melalui musyawarah,” kata Ismail. (EER)