JAKARTA, AFU.ID – Tidak adanya hubungan bilateral antara Indonesia dengan Israel dinilai dapat menimbulkan skenario terburuk dan perlu diantisipasi oleh pemerintah dalam upaya membebaskan jurnalis serta relawan Indonesia yang ditangkap oleh militer Israel.
Pengamat Internasional, Broto Wardoyo, mengungkapkan kepada AFU.ID, intersepsi atau penangkapan yang dilakukan militer Israel tersebut memungkinkan Israel menuntut imbalan politis tertentu atau kompensasi diplomatik dari negara asal tawanan.
"Kalau skenario terburuk ya kompensasi diplomatik. Which is bakal bikin ruwet kita," kata Broto kepada AFU.ID, Selasa (19/5/2026).
Kata Broto, Indonesia memerlukan adanya pihak ketiga yang mumpuni untuk memfasilitasi pembebasan WNI tersebut. Dalam hal ini, menurutnya terdapat tiga negara yang memiliki link ke Israel.
"Seperti Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UAE)," sambung Broto. .
Lebih lanjut, ia menegaskan pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan protes atau kecaman semata dalam menyelesaikan penangkapan ini.
"Tidak bisa sendiri. Harus tetap ada lobi diplomatik ke Israel," tegasnya.
Menurut Broto, manuver diplomasi ke negara pihak ketiga tersebut tidak harus menunggu eskalasi tingkat tinggi dan bisa langsung dieksekusi oleh pihak kementerian.
"Kementerian luar negeri saja cukup. Tapi kalau Presiden mau handle ya bisa saja. Bahkan di level Direktur saja bisa," ungkapnya.
Ia kemudian mencontohkan kasus-kasus terdahulu seperti serangan 7 Oktober 2023 dan penangkapan para aktivis kemanusiaan yang berusaha membuka blokade Gaza. Ia menyebut pada akhirnya para korban yang tertangkap militer Israel bisa dilepaskan tanpa tekanan internasional.
“Tentu ada upaya masing-masing negara yang warganya ditahan oleh Israel juga,” jelasnya.
Kendati demikian, ia mengungkapkan pada dasarnya Indonesia telah memiliki hotline atau jalur komunikasi yang matang dengan Israel, namun bersifat tertutup.
Sebagai informasi, peristiwa ini terkait misi kemanusiaan internasional bernama Global Sumud Flotilla yang diintersepsi oleh tentara militer Israel dengan aksi penangkapan paksa jurnalis dan aktivis.
Militer Israel menangkap paksa sejumlah jurnalis dan aktivis kemanusiaan asal Indonesia saat sedang berlayar membawa bantuan menuju Gaza, Palestina, di perairan internasional Mediterania. Penangkapan tersebut menimpa lima WNI yang tersebar di tiga armada kapal berbeda.
Berdasarkan data Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), jurnalis Republika Bambang Noroyono ditangkap di Kapal Bolarize bersama dua warga negara Malaysia.
Penahanan juga menimpa tiga jurnalis nasional di Kapal Ozgurluk, yakni Andre Prasetyo (TV Tempo), Thoudy Badai (Republika), Heru Rahendro (iNews), serta satu aktivis kemanusiaan bernama Andi Angga di Kapal Josef.
Di sisi lain, empat utusan Indonesia lainnya dilaporkan masih aman dan terus melanjutkan pelayaran, yakni Asad Aras dan Hendro Prasetyo di Kapal Kasri Sadabad, serta Herman Budianto dan Ronggo Wirsanu di Kapal Zefiro. (NAD)