JAKARTA - AFU.ID, Sebuah video ulah Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, bikin dunia internasional naik pitam. Dalam rekaman itu, politisi sayap kanan keras tersebut terlihat mengejek para aktivis flotilla yang mencoba memecah blokade Gaza.
Insiden ini adalah pukulan telak bagi kampanye humas Israel yang menghabiskan dana jutaan dolar atau dikenal dengan sebutan "Hasbara".
Video yang diunggah di media sosial X, Rabu (20/5/2026) itu memperlihatkan ekspresi Ben-Gvir yang tampak puas atas perbuatan tak manusiawi itu.
Para aktivis dari Global Sumud Flotilla tampak berlutut di lantai, mata ditutup, dan tangan terikat di Pelabuhan Ashdod. Setelah mereka diculik oleh pasukan laut Israel di perairan internasional lepas pantai Siprus.
Dalam insiden penculikan itu, 430 peserta hilang kontak.
Setidaknya 87 orang di antaranya memulai mogok makan sebagai solidaritas dengan lebih dari 9.500 tahanan Palestina di penjara Israel, dikutip dari Al Jazeera, Jumat (22/5/2026).
Sejumlah negara mengutuk keras aksi brutal tentara Israel itu. Italia, Prancis, Belanda, Kanada, hingga Spanyol mengambil langkah tegas. Mereka memanggil duta besar Israel di negara masing-masing untuk dimintai keterangan.
Pemerintah Indonesia, juga turut mengutuk perlakuan Israel itu, meski lebih lambat dari negara-negara lain. Padahal, sebanyak 9 WNI juga menjadi korban penculikan.
Hasbara: Ongkos Propaganda Israel
Para pakar menilai, pejabat tinggi Israel itu tidak punya malu. Hask Asasi Manusia (HAM) tidak menjadi pertimbangan dalam melancarkan aksi mereka.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan memerintahkan deportasi cepat para aktivis.
Israel mengucurkan dana ratusan juta dolar AS untuk memoles citra publiknya. Melancarkan propaganda dan pencitraan kelas dunia, di bawah komando lembaga bernama Hasbara.
Hasbara, dalam Bahasa Ibrani, berarti "penjelasan", namun ini lebih mirip mesin propaganda. Tujuannya satu: membenarkan kebijakan dan aksi brutal militer Israel terhadap Palestina. Meski pun selalu di luar nalar dan akal sehat.
Fathi Nimer, pakar kebijakan Palestina dari Al-Shabaka mengatakan, Hasbara pada dasarnya adalah mesin propaganda negara. "Hasbara dirancang untuk mempercantik citra pendudukan," ujarnya.
Hasbara dibangun di atas satu ketentuan: Israel selalu benar, dan dunia yang tidak mengerti. Karena isolasi Israel yang semakin dalam pasca perang Gaza, anggaran Hasbara melonjak drastis.
Dari sekitar USD15 juta di 2023 menjadi USD700 juta di 2026.
Namun, video cabul Ben-Gvir menghancurkan narasi besar itu dalam sekejap. Ini seperti blessing in disguise atau berkah yang terselubung, karena akhirnya dunia kembali sadar: Israel memang sembrono.
"Pimpinan Israel memperlakukan ini sebagai krisis humas, bukan krisis moral," tegas Nimer.
Bagi Netanyahu, dosanya bukan pada penyiksaan atau penghinaan aktivis. Tetapi, pada menyiarkan aksi biadab itu ke seluruh dunia.
Sementara Ben-Gvir sendiri tak peduli dengan citra Israel di luar negeri. Ia melakukan pelecehan itu untuk konsumsi pemilih sayap kanan di dalam negeri.
Mtanes Shehadeh, akademisi yang fokus pada isu-isu Israel, mengatakan video ini mengirimkan realitas sebenarnya Israel ke seluruh dunia. "Video itu memberikan bukti langsung dan tak terbantahkan," katanya.
Bahwa kekerasan struktural dan ketidakpedulian pada HAM adalah fondasi pemerintahan Israel saat ini.
Standar Ganda
Krisis diplomatik ini juga memamerkan kontradiksi kebijakan Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, memang mengkritik Ben-Gvir. Tetapi kritinya seperti omong kosong.
"Mengkhianati martabat bangsanya," katanya.
Pasalnya, AS hanya fokus pada aib penyiaran video, bukan pada pelanggaran HAM-nya. Yang lebih kontroversial, pernyataan Huckabee datang sehari setelah AS menjatuhkan sanksi pada pengorganisir flotilla.
Departemen Keuangan AS melabeli misi kemanusiaan itu sebagai "flotilla pro-teror" pendukung Hamas.
Sanksi menargetkan aktivis dari Popular Conference for Palestinians Abroad dan Samidoun. Para analis menyebut ini standar ganda yang dipertontonkan tanpa rasa malu.
Ketika ada urusan yang merugikan Israel, AS justru bertindak cepat. Buru-buru menjatuhkan sanksi pada aktivis kemanusiaan, kelompok sipil Palestina, hingga jaksa ICC.
Namun giliran ada urusan yang merugikan Israel, segenap daya dan upaya AS dikerahkan untuk menutupinya. Seperti yang terjadi pada Ben-Gvir ini.
Perlu Sanksi Tegas
Perlakukan Ben-Gvir itu, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dirasakan warga Palestina. Potret perlakukan dalam video itu, adalah duka yang mereka rasakan setiap saat.
Mustafa Barghouti, sekretaris jenderal Inisiatif Nasional Palestina, menyebut para aktivis yang terikat dan ditutup matanya itu adalah "mikrokosmos".
"Adegan ini mengekspresikan fasisme seluruh pemerintah Israel, bukan hanya Ben-Gvir," kata Barghouti.
Jika pemerintah Israel benar-benar menentang praktik biadab ini, tegasnya, mereka akan segera memecat Ben-Gvir. Nyatanya, keberanian Israel justru sampai pada titik membajak kapal di perairan internasional.
Luisa Morgantini, mantan wakil presiden Parlemen Eropa, menyebut respons diplomatik seperti memanggil duta besar tidak sepadan dengan perlakuan Israel.
Ia menyerukan negara-negara Eropa menangguhkan perjanjian diplomatik dengan Israel. Juga menghentikan penjualan senjata dan mendukung surat perintah penangkapan ICC terhadap para pemimpin Israel. (EER)