JAKARTA, AFU.ID — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa pagi setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia mengejutkan pasar. Rupiah dibuka pada posisi Rp18.070 per dolar Amerika Serikat, kemudian bergerak turun hingga Rp18.088 per dolar AS sekitar pukul 09.10 WIB. Mata uang Indonesia melemah 79 poin atau sekitar 0,44 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan tersebut melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan Senin yang ditutup pada level Rp18.009 per dolar AS. Pada hari yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan juga berakhir turun 0,17 persen ke posisi 6.185,77. Pelaku pasar dinilai masih berhati-hati menghadapi pergantian mendadak pucuk pimpinan bank sentral.
Analis pasar uang Lukman Leong menilai pengunduran diri Perry masih menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Investor kini menunggu kepastian mengenai gubernur definitif serta arah kebijakan moneter setelah masa transisi berakhir. “Rupiah diperkirakan akan kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen negatif investor merespons pengunduran diri Gubernur BI,” kata Lukman (28/07/26).
Perry mengajukan pengunduran diri secara sukarela pada Sabtu dengan alasan pribadi. Presiden Prabowo Subianto menerima pengunduran diri tersebut sehari kemudian dan pemerintah sedang memproses keputusan presiden mengenai pemberhentiannya secara hormat. Perry meninggalkan jabatan itu sebelum masa kepemimpinan keduanya berakhir pada 2028.
Rapat Dewan Gubernur BI kemudian menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat gubernur sementara. Destry bertugas menjalankan seluruh kewenangan gubernur hingga terpilih pemimpin definitif sesuai mekanisme perundang-undangan. Presiden belum mengajukan nama calon pengganti Perry kepada DPR untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan.
Bank Indonesia memastikan pergantian kepemimpinan tidak akan mengganggu tugas bank sentral dalam menjaga rupiah, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan. BI juga menyatakan akan tetap menjalankan kebijakan secara profesional serta berkoordinasi dengan pemerintah sesuai kewenangan masing-masing. Jaminan keberlanjutan kebijakan tersebut menjadi penting untuk meredakan kekhawatiran pelaku pasar selama masa transisi.
Namun, sejumlah ekonom menilai persoalan yang menjadi perhatian investor tidak hanya menyangkut siapa yang menjalankan tugas sementara. Pasar juga mencermati apakah pengganti Perry mampu mempertahankan kredibilitas dan independensi BI dari tekanan politik. Pilihan Presiden terhadap calon gubernur definitif diperkirakan menjadi salah satu penentu arah kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
Perry mundur ketika rupiah berada di sekitar level terlemah dan BI tengah berusaha menahan tekanan terhadap mata uang nasional. Dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir yang dipimpinnya, BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen setelah sebelumnya melakukan kenaikan untuk menopang stabilitas rupiah. Kondisi tersebut membuat proses pergantian gubernur berlangsung pada saat kebijakan moneter menghadapi tekanan berat.
Pasar kini menunggu langkah lanjutan pemerintah dalam menentukan calon gubernur BI definitif. Semakin cepat pemerintah memberikan kepastian mengenai figur dan arah kebijakan bank sentral, semakin besar peluang meredakan ketidakpastian yang membebani rupiah. Sebaliknya, proses yang berlarut berpotensi membuat pelaku pasar tetap mengambil posisi hati-hati terhadap aset berdenominasi rupiah. (RHU)