Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Pengelolaan Gas Metana Buruk, Picu Kebakaran TPA Berulang
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Operasi pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. (Foto: Kemenhut RI)
JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang berstatus rawan terus berulang, akibat buruknya sistem tata kelola gas metana di kawasan penampungan sampah. Kelalaian dalam melakukan mitigasi dini berisiko memicu pencemaran udara beracun yang mengancam kesehatan ribuan warga sekitar.
Melansir website Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut RI), Minggu (12/7/2026), salah satu contohnya terjadi di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Yang mana, penanggulangan insiden membutuhkan pperasi darurat terpadu dengan melibatkan pengerahan tim penjinak api dari berbagai unsur sektoral secara intensif.
“Keberhasilan pemadaman kebakaran TPA Jatiwaringin merupakan hasil kerja keras, dedikasi, dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat. Personel Manggala Agni bersama tim gabungan bekerja secara intensif melakukan operasi pemadaman terpadu melalui jalur darat dan dukungan operasi udara hingga seluruh areal terdampak berhasil dipadamkan,” ungkap Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Dirjen Gakkumhut) Kemenhut RI, Dwi Januanto Nugroho.
Selanjutnya, pelibatan satuan tanggap darurat yang memiliki rekam jejak mumpuni terbukti mempercepat proses sterilisasi area terdampak. Pemerintah memprioritaskan pemanfaatan keahlian khusus militer dan sipil guna menjamin efektivitas penanganan titik panas di lapisan terdalam sampah.
“Keberhasilan operasi ini didukung oleh sinergi berbagai pihak yaitu Kemenhut, BNPB, TNI, Polri, KLH, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten dan Kota Tangerang, BPBD dan unsur pemerintah daerah lainnya Dinas serta para relawan. Kolaborasi tersebut menjadi faktor penting dalam memastikan operasi pemadaman berlangsung aman, efektif, dan tuntas,” tutur Dwi Januanto Nugroho.
Metode Kikis Atasi Kebakaran TPA Tangerang
Di sisi lain, kerumitan penanganan material padat sisa konsumsi rumah tangga membutuhkan teknik penguraian bara yang spesifik. Karakteristik sampah yang heterogen menyulitkan pemadaman konvensional sehingga mendorong implementasi strategi pengikisan lapisan permukaan tumpukan secara mekanis.
“Di lapangan, personel menerapkan strategi metode kikis, yaitu pengerukan permukaan timbunan sampah menggunakan alat berat secara simultan dengan penyemprotan air pada titik-titik api. Itu untuk membuka lapisan yang masih menyimpan bara sehingga proses pendinginan berlangsung lebih efektif,” ujar Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut RI, Thomas Nifinluri.
Sementara itu, pembagian waktu kerja operasional selama tujuh hari penuh diterapkan demi menjaga stamina ratusan personel pemadam. Pemuasan kebutuhan logistik terpadu menjadi kunci penting dalam memitigasi dampak perluasan kebakaran TPA seluas 15 hektare tersebut.
“Pasca pemadaman ini, tim masih melaksanakan pengecekan dan pembasahan pada seluruh areal bekas terbakar. Itu untuk memastikan tidak ada lagi bara api maupun titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali,” pungkas Thomas Nifinluri.
Pada dasarnya, keberhasilan pemadaman total di TPA tak boleh mengabaikan urgensi pembenahan sistem pengelolaan sampah nasional jangka panjang. Tanpa adanya ketegasan hukum serta modernisasi instalasi penangkap gas metana, insiden kebakaran TPA akan terus berulang dan menjadi bom waktu yang mengancam keselamatan ekologis masyarakat. (ADR)