Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono (kedua dari kanan) bersama delegasi tim Rubicon Carbon. (Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Karbon Biru terus dikembangkan sebagai instrumen untuk mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi biru nasional. Penguatan program tersebut diarahkan melalui pengelolaan ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang memiliki kemampuan menyerap karbon sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Upaya itu juga dibarengi penyusunan regulasi agar pengembangan proyek karbon memenuhi standar internasional.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indoensia (KKP RI), Minggu (19/7/2026), Direktorat Pengelolaan Kelautan menjajaki kerja sama dengan Rubicon Carbon, perusahaan solusi karbon asal Amerika Serikat, untuk mengembangkan proyek Karbon Biru berintegritas tinggi. Kolaborasi tersebut mencakup peluang investasi karbon, pengembangan teknologi, hingga pembiayaan inovatif guna meningkatkan kualitas pengelolaan ekosistem pesisir Indonesia. Bersamaan dengan itu, KKP juga tengah merevisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2025 tentang tata cara penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di sektor kelautan sebagai landasan pengembangan pasar karbon.
Selanjutnya, pemerintah memprioritaskan restorasi kawasan pesisir Pantai Utara Jawa yang selama puluhan tahun mengalami degradasi lingkungan. Program tersebut menggabungkan rehabilitasi mangrove dengan perbaikan sistem budi daya tambak agar mampu meningkatkan daya serap karbon sekaligus produktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
“Salah satu fokus pengembangan saat ini adalah revitalisasi kawasan pesisir Pantai Utara Jawa melalui restorasi mangrove yang dipadukan dengan perbaikan sistem budidaya tambak. Program ini diarahkan untuk memulihkan kawasan pesisir yang mengalami degradasi selama puluhan tahun sekaligus meningkatkan kapasitas penyerapan karbon dan produktivitas ekonomi masyarakat,” ungkap Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono.
Karbon Biru Dibidik Masuk Pasar Karbon Global
Sakti Wahyu Trenggono menjelaskan pemanfaatan teknologi pemantauan terhadap mangrove, padang lamun, dan terumbu karang akan menjadi bagian penting dalam penyusunan data karbon yang kredibel. Data tersebut dibutuhkan agar proyek karbon biru Indonesia memenuhi standar internasional dan memiliki daya saing di pasar karbon global.
Melalui kemitraan tersebut, KKP akan menyusun studi kelayakan, mengembangkan proyek percontohan, memobilisasi investasi, serta membuka akses terhadap pasar karbon internasional. Pemerintah berharap proyek yang dikembangkan mampu menarik pembeli kredit karbon sejak tahap awal implementasi sehingga memberikan kepastian investasi.
“Kami melihat hal ini sebagai kepemimpinan sejati di pasar dalam memulihkan dan melestarikan mangrove. Dari pihak kami, kami sangat menantikan kerja sama dengan KKP, serta menjajaki bagaimana mengembangkan proyek tingkat lanskap yang berkualitas tinggi di Indonesia. Kami berharap dapat menjadikannya contoh berskala kelas dunia tentang bagaimana mereplikasi solusi-solusi ini untuk memulihkan mangrove di seluruh dunia,” ungkap Head of Asia and Head of Asset Management Rubicon Carbon, Flora Ji.
Pengembangan Karbon Biru tidak hanya berpotensi memperkuat pencapaian target penurunan emisi nasional, tetapi juga membuka sumber pembiayaan baru melalui perdagangan karbon dan investasi hijau. Apabila didukung regulasi yang kuat, tata kelola yang transparan, serta pelibatan aktif masyarakat pesisir, program tersebut berpeluang menjadi salah satu penggerak utama ekonomi biru Indonesia sekaligus meningkatkan nilai ekologis kawasan pesisir dalam jangka panjang. (ADR)