JAKARTA, AFU.ID — Tuntutan penurunan harga BBM dan perbaikan kesejahteraan buruh menggema dalam aksi long march Aliansi Perempuan Indonesia menuju Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/6/2026). Massa menilai beban hidup masyarakat kian berat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan minimnya perlindungan terhadap pekerja.
Aksi tersebut melibatkan 90 organisasi perempuan dari berbagai daerah. Massa didominasi perempuan buruh yang mengenakan pakaian berwarna merah muda dan membawa peralatan dapur sebagai simbol semakin beratnya beban ekonomi rumah tangga akibat kenaikan biaya hidup.
Long march dimulai dari kawasan Dukuh Atas menuju Istana Negara. Sepanjang perjalanan, massa secara bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti kondisi ekonomi, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja, hingga kebijakan pemerintah yang dinilai tidak menyentuh persoalan utama masyarakat.
Perwakilan Aliansi Perempuan Indonesia, Mutiara Ika Pratiwi, mengatakan aksi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan kelompok perempuan terhadap berbagai kebijakan yang dianggap memperburuk kondisi hidup masyarakat. Menurutnya, kenaikan harga BBM telah memicu lonjakan harga kebutuhan pokok yang paling dirasakan keluarga pekerja.
"Kenaikan harga membuat beban hidup semakin berat, terutama bagi perempuan buruh yang bekerja dengan upah rendah dan jam kerja panjang," kata Mutiara, Rabu (17/6/2026). Massa juga menyoroti dampak ekonomi yang dirasakan pekerja rumah tangga. Tekanan ekonomi pada kelompok masyarakat kelas menengah membuat banyak pemberi kerja mengurangi pengeluaran, termasuk menghentikan jasa pekerja rumah tangga.
Selain menuntut penurunan harga BBM, peserta aksi juga menagih berbagai janji pemerintah di bidang ketenagakerjaan. Sejumlah komitmen seperti penghapusan sistem outsourcing, penguatan perlindungan buruh, hingga pembentukan Satgas PHK belum menunjukkan hasil yang nyata. "Prabowo tidak menggunakan sumber daya yang sangat besar untuk menjamin hak-hak buruh dan kesejahteraan sosial kami," ujar Mutiara.
Di tengah perjalanan menuju Istana, massa sempat tertahan di kawasan Jalan MH Thamrin, tepatnya di depan Menara UOB. Polisi wanita membentuk barikade untuk mengatur pergerakan massa dan mengarahkan jalur aksi agar tidak mengganggu lalu lintas secara lebih luas.
Meski sempat terjadi negosiasi antara aparat dan perwakilan massa, situasi berlangsung kondusif. Massa kemudian menggelar orasi di lokasi sambil menyuarakan tiga tuntutan utama yang menjadi fokus demonstrasi. "Turunkan harga, hentikan MBG, buka lapangan kerja!" teriak massa aksi secara bergantian saat berorasi.
Selain Aliansi Perempuan Indonesia, sejumlah kelompok mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta juga dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa pada hari yang sama. Salah satunya berasal dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta yang turut menyuarakan berbagai isu sosial dan ekonomi nasional.
Aparat kepolisian tetap berjaga di sejumlah titik untuk mengawal jalannya demonstrasi. Hingga siang hari, aksi berlangsung tertib meski sempat menyebabkan perlambatan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan utama ibu kota. (ANT/RAI)