JAKARTA, AFU.ID - Aliansi BEM SI wilayah Jawa Tengah memberi tenggat 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki nilai tukar rupiah yang melemah hingga kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mahasiswa mengancam menggelar aksi bertajuk Reformasi Jilid 2.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah menghargai aspirasi dan masukan dari kelompok mahasiswa tersebut. Namun, ia menegaskan persoalan ekonomi tidak bisa diselesaikan secara instan karena dipengaruhi banyak faktor.
“Tentu dipengaruhi oleh banyak faktor,” kata Prasetyo di kompleks DPR, Jakarta, Senin, 8 Juni 2026.
Prasetyo menyebut pemerintah sedang berupaya mengatasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah melalui koordinasi kebijakan ekonomi. Menurut dia, langkah itu dilakukan untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memberi kepastian kepada pelaku usaha.
“Semangatnya untuk kami semua bagaimana untuk memang bekerja keras, terutama di sektor ekonomi,” ujarnya.
Ultimatum tersebut sebelumnya disampaikan BEM SI regional Jawa Tengah melalui unggahan Instagram akun @bem_si dan @storyrakyat_ pada Minggu, 7 Juni 2026.
Dalam unggahan itu, BEM SI se-Jawa Tengah memberi waktu 18 hari kepada pemerintah untuk memperbaiki nilai tukar rupiah. Tuntutan serupa juga disampaikan saat aksi di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang pada Jumat, 5 Juni 2026.
Mahasiswa menyoroti pelemahan rupiah yang telah jatuh ke kisaran Rp18 ribu per dolar AS. Selain nilai tukar, mereka juga membahas pembengkakan fiskal, pengangguran, dan kenaikan harga kebutuhan hidup.
BEM SI sebelumnya menggelar konsolidasi nasional secara daring pada 4 Juni 2026 untuk membahas kondisi ekonomi nasional. (FAD)