Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Beda Nasib Prabowo dan Gerindra, Sang Ketum Keok Lawan KDM, Partainya Masih Nomor Satu
Bagikan:
Penulis: Agung Riyadi
Ringkasan Berita
Hasil survei terbaru oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perbedaan signifikan antara elektabilitas Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. Meskipun Prabowo mengalami penurunan drastis dalam dukungan, hanya 28,3% dalam simulasi head-to-head melawan Dedi Mulyadi, yang meraih 59%, Partai Gerindra tetap berada di puncak elektabilitas partai dengan 16,9%. Penurunan ini terkait erat dengan menurunnya tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah, yang berimplikasi pada dinamika politik menjelang pemilu mendatang.
Survei SMRC menunjukkan Gerindra masih di posisi teratas (Istimewa)
Sentimen Berita
75% sumber condong ke kanan
Kiri0%
Netral25%
Kanan75%
JAKARTA, AFU.ID - Hasil survei nasional terbaru yang dirilis oleh lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merekam potret kontras dan dinamika menarik dalam peta politik nasional. Di satu sisi, elektabilitas Presiden RI Prabowo Subianto anjlok drastis dan keok di hadapan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) dalam simulasi calon presiden. Namun di sisi lain, partai politik yang dipimpinnya, Partai Gerindra, tetap bertahan di posisi puncak sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan survei SMRC periode 5–19 Juli 2026, terjadi pergeseran peta elektoral calon presiden yang sangat signifikan. Pada simulasi semi-terbuka 20 nama, nama Dedi Mulyadi melambung ke urutan pertama dengan elektabilitas 35,0%, melemparkan Prabowo ke posisi kedua yang hanya mengantongi 14,5%. Tokoh-tokoh lain seperti Anies Baswedan (8,2%), Gibran Rakabuming Raka (7,7%), AHY (4,9%), Ganjar Pranowo (4,2%), dan Mahfud MD (4,0%) berada jauh di bawahnya.
Jarak keterpilihan semakin lebar pada simulasi head-to-head (dua nama) dengan Dedi Mulyadi (KDM) meraih suara 59,0% sedangkan Prabowo Subianto hanya 28,3%. Selebihnya, 12,7% menyatakan tidak tahu atau belum menentukan.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menjelaskan, hasil survei menunjukkan, hanya dalam kurun waktu empat bulan, elektabilitas Prabowo pada simulasi dua nama merosot tajam dari 50,5% pada Februari–Maret 2026 menjadi 28,3% pada Juli 2026. Di periode yang sama, KDM justru melonjak pesat dari 42,6% ke 59,0%.
Meski elektabilitas sang ketua umum melemah di bursa pilpres, Partai Gerindra terbukti masih tangguh di ranah legislatif. Apabila pemilu anggota DPR digelar saat ini, Gerindra tetap menempati urutan teratas sebagai partai politik dengan elektabilitas paling dominan. Berdasarkan survei tersebut, Gerindra masih kokoh di puncak dengan raihan suara responden sebesar 16,9% diikuti PDI Perjuangan dengan 11,7%, Partai Golkar (9,6%), Partai Demokrat (8,1%) dan PKB (5,4%).
Berikutnya ada Partai NasDem dan PKS yang berbagi angka 4,4%, PSI (4,1%). Selebihnya adalah Partai-partai lain (Perindo, PAN, PPP, Garuda, dll) berada di bawah 3%. Sementara yang belum menentukan atau rahasia mencapai 25,9%.
Kendati berada di posisi puncak, suara Gerindra sebenarnya turut tergerus cukup tajam dari puncak pencapaiannya pada survei Februari–Maret 2026 yang sempat menyentuh angka 29,3%. Tingginya angka pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) sebesar 25,9% menunjukkan peta politik menuju Pemilu mendatang masih sangat cair.
Faktor Pemicu: Anjloknya Approval Rating dan Sentimen Kinerja
SMRC menilai keterkaitan erat antara penurunan elektabilitas Prabowo dan Gerindra dengan merosotnya tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap kinerja pemerintah. Approval rating Presiden Prabowo tercatat terjun dari 81,2% pada November 2025 menjadi 51,1% pada Juli 2026. Sebaliknya, tingkat ketidakpuasan masyarakat melonjak pesat dari 16,0% menjadi 46,9%.
Deni Irvani menyebut pergeseran ini dipengaruhi oleh melemahnya sentimen positif publik terhadap kondisi ekonomi nasional, stabilitas politik, penegakan hukum, serta sorotan atas eksekusi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Menanggapi rilis riset SMRC tersebut, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyatakan partainya menyikapi hasil temuan ini secara terbuka dan menjadikannya sebagai bahan masukan untuk evaluasi pemerintah.
"Kami juga sedang mempelajari, juga kami kaji, dan tentunya hasil survei juga itu adalah berupa masukan-masukan yang nantinya kita akan komparasikan. Kami berharap pihak pemerintah dalam hal ini kemudian mengimbangi apabila memang hasil kajiannya ada beberapa hal yang kemudian memang terjadi pada saat ini," tegas Dasco di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Survei nasional SMRC ini dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak, menggunakan metode wawancara telepon (83,8%) dan tatap muka (16,2%), serta memiliki tingkat toleransi kesalahan (margin of error) sebesar ±3,7% pada tingkat kepercayaan 95%.