JAKARTA - AFU.ID, Harga minyak dunia menurun pada Senin pagi (3/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan akan membantu mengeluarkan sejumlah kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Meski begitu, harga minyak masih di atas 100 USD per barel.
Harga minyak mentah jenis Brent turun sebesar 64 sen atau 0,59% ke posisi US$ 107,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 84 sen atau 0,82% menjadi US$ 101,10 per barel, melansir Reuters.
Harga minyak diprediksi belum bakal stabil mengingat AS baru saja menolak 14 tawaran dalam proposal damai dari Iran.
Sementara itu, RI belum ada tanda mengurangi subsidi untuk menalangi selisih harga minyak dunia yang masih belum stabil. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.
"Subsidi aman enggak usah takut, kami sudah hitung," papar Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (06/4/2026).
Kemenkeu telah membuat simulasi berbagai harga minyak. Sepanjang 2026, asumsi harga minyak dunia dipukul rata menjadi sekitar 100 USD. Simulasi harga itu, menurutnya tidak mempengaruhi postur APBN.
Purbaya mengatakan, Kementerian Keuangan telah mengalkulasi harga minyak dunia ketika mencapai US$80/barel, US$90/barel, serta US$100/barel bahkan hingga mitigasi harga minyak dunia ke APBN.
"Dan exercise tertentu anggaran bisa ditekan [defisit] masih di 2,92% terhadap PDB," jelas Purbaya.
Sedangkan APBN pada kuartal I 2026 atau per 31 Maret defisit Rp240,1 triliun atau sebesar 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini terjadi karena belanja negara lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara.
Hingga akhir Maret 2026 pemerintah mencatat belanja negara naik 31,4% ke level Rp815 triliun secara tahunan (year-on-year/yoy).
Adapun pendapatan negara per Maret 2026 tercatat sebesar Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5% secara tahunan. Angka pendapatan itu lebih rendah dari belanja negara per Maret 2026.
Pemerintah menerapkan berbagai skenario penghematan untuk menekan kebutuhan BBM harian. Mulai dari aturan bekerja dari rumah, membatasi pembelian BBM untuk kendaraan pribadi hingga 50 liter per hari, hingga pembatasan penggunaan kendaraan dinas bagi ASN.
Batas Toleransi APBN untuk Subsidi BBM
APBN punya batas maksimal untuk mensubsidi selisih harga BBM seiring kenaikan harga minyak dunia. Dan itu tidak hanya terkait dengan harga minyak dunia saja, melainkan juga tentang kuatnya nilai rupiah dan ruang fiskal.
Analis senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita, mengatakan kemampuan menahan itu terbatas. Jika harga minyak global tetap tinggi, maka "biaya menunda" ini akan semakin mahal, katanya.
"Secara realistis, kemampuan menahan ini terbatas, kemungkinan hanya dalam hitungan beberapa bulan, bukan tahun, jika tekanan eksternal tidak mereda," ucapnya, dilansir BBC News Indonesia, Kamis (02/04).
Untuk urusan fiskal, dirinya menyebut cukup tetapi hanya untuk jangka pendek. Namun jika itu dilakukan secara terus-menerus, belum tentu APBN bisa menahan hantaman harga minyak global.
Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi mengatakan, pilihan RI untuk tidak menaikkan harga BBM menjadi salah satu kesenangan untuk masyarakat Indonesia. Namun, di sisi lain upaya ini akan berdampak besar terhadap APBN.
Katanya, upaya itu sangat riskan karena perang antara Iran dan AS belum bisa diprediksi kapan akan benar-benar berhenti.
“Indikator yang digunakan (pemerintah) itu timeframe, waktu sampai Desember, ini kan cukup lama," ujar Fahmy kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, pemerintah harus berani mengambil garis batas yang lebih tegas karena jika dibiarkan akan membahayakan APBN. Seharusnya pemerintah menentukan indikasi yang lebih presisi, misalnya kalau harga minyak dunia menyentuh 150 USD, maka harga BBM akan dinaikkan.
“Menyarankan pemerintah RI bersikap realistis untuk harga BBM saat ini. Tujuannya, agar APBN tetap aman,” katanya.
Terkait, kurs rupiah terhadap dolar yang nilainya makin lemah, semestinya juga menjadi pertimbangan pemerintah, begitu juga soal inflasi.
"Bukan sampai akhir tahun karena sulit sekali sampai akhir tahun tadi untuk memperkirakan berapa harga minyak dunia yang itu nggak bisa dikontrol sama sekali oleh siapapun," ujarnya. (EER)