Jakarta, AFU.ID — Tahun 1978 adalah bagian penting dalam perjalanan sejarah hubungan Indonesia dengan Timor Portugis. Penangkapan Nicolau dos Reis Lobato pada akhir Desember di tahun itu, menandai permulaan fase konfrontasi militer terbuka di sana. Namun, bagi Komandan Yunus Yosfiah, sebagai orang yang berhasil menangkap Lobato, tahun itu punya arti lain.
Bagi Yunus, tahun itu ia kenang sebagai awal mula kisah cinta dalam hidupnya. Aroma mesiu yang terbakar, debu-debu di lereng Lembah Mindelo, dan sederet operasi militer, justru menjadi latar cerita drama percintaan dua insan dari latar belakang yang berbeda.
Yunus adalah seorang perwira militer berdarag Bugis, yang beragama Islam dengan taat. Sedangkan Antonia Jacinta da Costa Ricardo, adalah gadis Timor berdarah Portugis, yang beragama Katolik. Tak banyak yang menduga dua insan dari latar belakang yang berbeda ini akan bersatu. Terlalu berisiko di tengah situasi segenting itu.
Tetapi bukan cinta namanya, jika tidak diselimuti drama. Suatu hari, Yunus terpikat sejak pertama bertemu Jacinta. Mungkin dia tergoda oleh kharisma anak dara yang terpaut usia 12 tahun dengannya itu. Tapi Yunus tak banyak membuat drama.
Seperti serdadu pada umumnya, Yunus tegas, tidak mau memperpanjang urusan yang sudah jelas adanya. Jika suka, bilang suka, jika tidak, tiada mengapa. Di hari kelima setelah mengenal anak dara itu, Mayor Yunus, yang merupakan pimpinan Yonif 744/Satya Yudha Bhakti, seperti ingin mengungkapkan isi hatinya. Tanpa basa-basi.
"Saya orang Islam, tidak bisa kawin beda agama," kata Yunus, melaporkan isi hatinya kepada sang kekasih, seperti yang ia ceritakan kepada AFU ID, di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Jawaban Jacinta seperti di luar perhitungannya sendiri. Cepat, singkat, padat dan meyakinkan: "Saya mau". "Apa yang membuatmu mau denganku?" Yunus tidak langsung puas dengan jawaban itu.
Jangan sampai jawaban ini karena yang bertanya adalah seorang komandan yang membawa pistol, dan Jacinta yang orang Timor, jadinya harus mengiyakan semua keinginan komandan.
"Matamu tajam, meyakinkan, saya suka dengan itu," ungkap Yunus menirukan Jacinta.
Tomat dan Kesejahteraan Prajurit
Antonia Jacinta da Costa Ricardo, berasal dari keluarga berlatar belakang militer Portugis di Timor. Ia merupakan putri seorang anggota Tropas——pasukan pribumi Timor yang direkrut oleh pemerintah kolonial Portugis sejak abad ke-19.
Tropas atau Tropas de Timor bertugas membantu administrasi dan keamanan di Timor Portugis, dan banyak di antara mereka yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya. Fakta bahwa ayah Jacinta adalah anggota Tropas menunjukkan latar belakang keluarganya cukup terhormat di masyarakat Timor saat itu.
Pernikahan lintas budaya dan agama ini sempat menjadi perhatian di tengah situasi konflik, namun justru memperkuat ikatan Yunus dengan masyarakat setempat. Pasangan ini dikaruniai empat anak: Eric Akbar Ricardo Yunus, Erica, Melissa, dan Pierre Akbar.
Beberapa tahun kemudian, sekitar pertengahan 1980-an (1985–1987), Kolonel Yunus Yosfiah ditugaskan sebagai Komandan Korem 164/Wira Dharma di Dili, jabatan Danrem yang sangat strategis di wilayah yang masih dalam tahap stabilisasi pasca-integrasi. Suatu pagi di kediaman resmi Danrem, istrinya tidak menyajikan potongan tomat segar seperti hari-hari biasanya saat sarapan.
Yunus bertanya heran. Jawaban istrinya sederhana: "Harganya mahal." Meski sederhana, jawaban ini justru memperlihatkan siapa sosok Yunus sebenarnya. Karena hatinya yang lembut tergugah untuk melakukan gerakan nyata untuk berkontribusi pada ekonomi kerakyatan.
"Kalau istri Danrem saja bilang harga tomat mahal, bagaimana anak buah saya? Bagaimana rakyat di bawah sana?" katanya mengenang dengan nada tegas.
Bagi Yunus, keluhan kecil itu bukan sekadar soal dapur rumah tangga, tetapi cerminan kegagalan ketahanan pangan di wilayah yang baru saja pulih dari konflik. Tanpa menunggu lama, ia mengumpulkan anak buahnya dan memprakarsai program swadaya penanaman berbagai jenis tanaman pangan. Ia mendatangkan bibit senilai Rp200 juta langsung dari Jakarta.
Setelah tujuh bulan, panen berhasil melimpah. Hasil penjualan mencapai lebih dari Rp1 miliar — keuntungan yang luar biasa dari modal awal. "Kenapa harus Danrem yang turun tangan? Kemana dinas pertanian, kemana Gubernur, kemana Bupati dan lain-lain?" ujar Yunus saat itu, menyoroti lambatnya respons birokrasi sipil.
Baginya, jika negara diurus dengan benar dan semua pihak bekerja keras, tidak akan ada barang yang mahal dan rakyat bisa hidup sejahtera.
Semangat yang sama ia bawa ketika menjabat Pangdam II/Sriwijaya (1994–1995). Dikenal galak dan disiplin tinggi, Yunus memerintahkan prajurit-prajurit yang kelebihan berat badan untuk turun langsung ke hutan mengamankan pembalakan liar yang saat itu marak di Sumatera Selatan. Berkat tindakan tegasnya, kasus illegal logging di wilayah tersebut berhasil ditekan signifikan. (EER)