JAKARTA, AFU.ID — Ingatan tentang gempa besar 2009 menjadi salah satu alasan masyarakat Sumatera Barat bergerak membantu korban gempa Nusa Tenggara Timur. Sebanyak 5 ton rendang ditargetkan dikumpulkan dan dikirim secara bertahap kepada warga terdampak gempa M7,7 di Flores. Dari jumlah tersebut, 700 kilogram sudah lebih dulu diterbangkan menggunakan pesawat Hercules TNI AU dari Sumatera Barat menuju wilayah bencana.
Bantuan itu digalang Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar bersama Gebu Minang dengan melibatkan Bundo Kanduang, Himpunan Pengusaha Randang Minangkabau (Hipermi), hingga masyarakat Minang di kampung halaman dan perantauan. Rendang yang terkumpul tidak dikirim sekaligus, melainkan diproduksi dan diberangkatkan dalam beberapa tahap. Target 5 ton diperkirakan dihimpun dalam waktu sekitar 10 hari sejak gerakan dimulai.
“Saat gempa 2009, Sumbar dibantu seluruh masyarakat Indonesia. Hari ini saudara kita di NTT merasakan hal yang sama,” kata Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar, Senin (17/08/2026). Fauzi mengatakan pengalaman Sumatera Barat ketika diterpa bencana membuat masyarakatnya memahami kebutuhan bantuan pada masa-masa awal setelah gempa. Gelombang pertama sebanyak 700 kilogram rendang diberangkatkan menggunakan Hercules A-1333 TNI AU dari Bandara Internasional Minangkabau.
Pilihan mengirim rendang bukan semata karena makanan tersebut menjadi identitas kuliner Minangkabau. Dalam situasi bencana, sebagian warga NTT masih menghadapi rumah rusak, gangguan layanan dasar, serta keterbatasan untuk memasak, sehingga makanan siap santap menjadi kebutuhan penting. Rendang dipilih karena relatif tahan lama, mudah didistribusikan, dan dapat langsung dikonsumsi bersama makanan pokok.
“Saudara kita di NTT pasti menunggu. Air dan listrik belum mengalir. Rumah runtuh. Mereka belum bisa memasak,” ujar Fauzi. Ia menyebut rendang dapat bertahan hingga sekitar tiga bulan apabila diproses dan disimpan dengan baik, membuatnya lebih sesuai untuk dikirim sebagai logistik darurat dibanding makanan yang cepat rusak.
Produksi bantuan kemudian diperluas dengan memanfaatkan Sentra Rendang Kota Padang. Wali Kota Padang Fadly Amran meminta fasilitas tersebut digunakan untuk mempercepat pencapaian target 5 ton sekaligus memastikan proses produksi dapat berlangsung dalam kapasitas besar. Pemerintah Kota Padang menyatakan siap mendukung kebutuhan fasilitas selama proses pengumpulan, pengolahan, dan pengemasan bantuan.
Aspek keamanan pangan juga mulai mendapat perhatian karena bantuan akan menempuh perjalanan panjang sebelum dikonsumsi penyintas. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan lembaganya akan ikut mengawal keamanan pangan dari bantuan rendang tersebut sebelum didistribusikan. Pengawasan dinilai penting mengingat makanan diproduksi dalam jumlah besar dan akan dikirim secara bertahap ke wilayah terdampak.
Gerakan ini bukan kali pertama rendang dari Sumatera Barat dikirim sebagai logistik bencana. Pada 2022, masyarakat dan Pemerintah Provinsi Sumbar juga menghimpun sekitar 1,5 hingga 2 ton rendang untuk korban gempa Cianjur, sementara pada 2021 sebanyak 1,5 ton rendang dikirim kepada korban bencana akibat Siklon Seroja di NTT. Pola yang sama kembali digunakan karena rendang dinilai efektif sebagai makanan siap santap ketika dapur dan fasilitas warga belum kembali berfungsi normal.
Kini, hampir 17 tahun setelah gempa 30 September 2009 meninggalkan luka besar di Sumatera Barat, pengalaman menjadi daerah penerima bantuan berbalik menjadi tenaga solidaritas untuk NTT. Pengiriman 700 kilogram baru merupakan tahap awal dari target 5 ton yang masih terus diproduksi dan dihimpun. Sisanya akan diberangkatkan secara bertahap seiring rendang selesai dimasak, dikemas, dan siap didistribusikan kepada penyintas. (RHU)