Penulis: Fadhlan Robbani · Reporter: Fadhlan Robbani
JAKARTA, AFU.ID – Sekitar 30.000 hektare tambak budi daya di 16 kabupaten dan kota di Aceh rusak akibat banjir besar pada akhir November 2025. Hingga Juli 2026, baru 694 hektare yang kembali beroperasi, sedangkan pemerintah menargetkan pemulihan mencapai 15.000 hektare pada akhir tahun. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pemulihan tahap awal seluas 5.200 hektare paling lambat September 2026.
Tambak yang selesai diperbaiki akan digunakan untuk budi daya udang, bandeng, kakap, dan nila salin. “Setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budi daya,” kata Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha saat meninjau tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, dikutip Minggu (26/7/2026).
Aceh Utara menjadi wilayah dengan kerusakan terluas, yakni lebih dari 10.000 hektare. Kerusakan berikutnya tercatat di Kabupaten Bireuen sekitar 4.900 hektare dan Aceh Tamiang mencapai 3.400 hektare. Rehabilitasi dilakukan melalui pengalihan anggaran internal KKP sambil menunggu proses administrasi anggaran pemulihan. Pemerintah menyatakan bantuan perbaikan tambak, benih, dan pakan diberikan tanpa pungutan biaya.
KKP memperkirakan satu hektare tambak dengan pola budi daya tradisional plus dapat menghasilkan sekitar 600 kilogram udang dalam satu siklus. Dengan harga jual rata-rata Rp50.000 per kilogram, omzet setiap hektare diperkirakan mencapai Rp30 juta dalam tiga bulan. Sebanyak 12 unit ekskavator telah dikirim ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat untuk mendukung pemulihan kawasan terdampak bencana hidrologi.
Delapan unit di antaranya ditempatkan di sejumlah kabupaten di Aceh untuk mempercepat perbaikan tambak. Selain sektor budi daya, pemerintah menyalurkan bantuan mesin kapal dan 100 kotak pendingin berkapasitas 300 liter kepada nelayan di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara. (FAD)