JAKARTA, AFU.ID — Jumlah titik panas atau hotspot di Indonesia terus meningkat memasuki puncak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi hotspot secara nasional telah mencapai 9.538 titik hingga awal Agustus 2026. BMKG mencatat sebaran hotspot mulai meningkat sejak Juni dan terus bertambah pada Juli hingga Agustus 2026.
Puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus di 61,4 persen wilayah Indonesia, sedangkan 12,6 persen wilayah mengalami puncak kemarau pada Juli dan 14,3 persen lainnya pada September. Kondisi tersebut membuat periode Agustus hingga September menjadi masa yang perlu diwaspadai dalam pengendalian karhutla.
Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi berdasarkan catatan BMKG. Provinsi tersebut mencatat 4.041 titik panas, disusul Kalimantan Tengah dengan 1.044 titik dan Sumatra Selatan sebanyak 371 titik. Tingginya jumlah hotspot di suatu wilayah menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam pemantauan potensi karhutla.
Jika dibandingkan dengan sejumlah periode El Nino sebelumnya, jumlah hotspot pada 2026 masih berada di bawah catatan tahun-tahun dengan aktivitas kebakaran tinggi. BMKG mencatat akumulasi hotspot mencapai 54.930 titik pada 2015, kemudian 28.016 titik pada 2019 dan 26.513 titik pada 2023, sedangkan data 2026 masih berjalan dan telah mencapai 9.538 titik hingga Agustus. Perbandingan tersebut belum dapat menggambarkan keseluruhan musim kebakaran 2026 karena periode kemarau masih berlangsung.
Data Pantau Gambut menunjukkan lonjakan hotspot yang lebih besar dalam periode satu bulan. Organisasi tersebut mencatat sedikitnya 15.067 titik panas muncul sepanjang Juli 2026 atau meningkat 594 persen dibandingkan bulan sebelumnya, dengan Kalimantan Barat, Papua Selatan, Kalimantan Tengah, Aceh, dan Riau menjadi lima wilayah dengan peningkatan paling mencolok.
Sementara itu, pemantauan FireWatch melalui platform Nusantara Atlas mencatat 154.067 hotspot hingga 11 Agustus 2026. Data tersebut juga menunjukkan sekitar 285.914 hektare area telah terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026, dengan Nusa Tenggara Timur menjadi provinsi dengan area terbakar terbesar mencapai 71.554 hektare, disusul Papua Selatan 53.701 hektare dan Jawa Timur 39.916 hektare.
Perbedaan angka dari masing-masing sumber berkaitan dengan data dan periode pemantauan yang digunakan sehingga tidak dapat dibandingkan secara langsung. Meski demikian, data tersebut sama-sama menunjukkan tingginya aktivitas titik panas saat Indonesia berada dalam periode kemarau dan El Nino, yang berpotensi meningkatkan risiko karhutla. Berikut 10 provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak berdasarkan catatan BMKG. (RAI)
Data BMKG terkait 10 Provinsi dengan Hotspot Terbanyak
Kalimantan Barat: 4.041 titik
Kalimantan Tengah: 1.044 titik
Sumatra Selatan: 371 titik
Kalimantan Selatan: 307 titik
Kalimantan Timur: 264 titik
Jawa Timur: 183 titik
Kepulauan Bangka Belitung: 160 titik
Lampung: 126 titik
Nusa Tenggara Timur: 116 titik
Maluku: 111 titik