JAKARTA - AFU.ID, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mendapat sorotan dunia karena perlakuannya terhadap para aktivis Global Sumud Flotilla yang tidak manusiawi.
Dalam unggahan video di Instagram milik Itamar @otzma_yehudit yang diakses AFU ID, Kamis (21/5/2026), terlihat ratusan aktivis dari berbagai negara diikat, dipaksa bersujud, dan ditarik-tarik oleh pasukan keamanan Israel.
Beberapa aktivis terlihat tertunduk saat hendak dipindahkan paksa ke salah satu ruangan dalam kamp penahanan. Video berdurasi 37 detik itu beredar luas di dunia maya. Video itu pun mendapat kecaman keras dari berbagai pihak.
Bahkan kritik itu datang dari Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu. Katanya, perlakuan Itamar Ben Gvir terhadap para aktivis tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel.
"Cara Menteri Ben Gvir menangani aktivis Flotilla tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Kamis (21/5/2026).
Netanyahu mengatakan otoritasnya akan segera melakukan deportasi terhadap para aktivis dari berbagai negara tersebut.
"Saya telah menginstruksikan pihak berwenang terkait untuk mendeportasi para provokator (aktivis) sesegera mungkin," kata Netanyahu.
Kemarahan global mencuat setelah unggahan video Ben-Gvir itu. Beberapa negara disebut memanggil duta besar Israel setelah perlakuan Ben-Gvir.
Beberapa negara, termasuk Italia, Prancis, Belanda, dan Kanada, telah memanggil duta besar Israel ke ibu kota mereka untuk menyatakan 'kemarahan' mereka atas perlakuan Israel terhadap aktivis armada Gaza yang diculik di perairan internasional
PM Giorgia Meloni menyebut perlakuan itu "tak bisa diterima". Pihaknya pun telah memanggil Dubes Israel untuk klarifikasi dan meminta maaf. Meloni meminta Israel segera melepaskan warga negaranya yang ikut ditahan dalam insiden itu.
Sebelumnya, Pemerintah RI mengecam keras aksi penangkapan tentara Israel terhadap ratusan aktivis kemanusiaan yang hendak mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla.
Sampai berita ini dibuat, Pemerintah RI belum memberikan tanggapan terkait video yang diunggah Itamar Ben Gvir itu.
Kronologi Penangkapan
Sebanyak 9 Warga Negara Indonesia (WNI) tergabung dalam misi kemanusiaan menuju Gaza, Palestina. Mereka tergabung dalam Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0, sebuah misi kemanusiaan maritim internasional tahap kedua yang digelar oleh koalisi masyarakat sipil global.
Misi GSF itu bertujuan membawa makanan, obat-obatan, alat medis dan kebutuhan kemanusiaan lainnya. Misi itu tak mudah karena harus menembus blokade Israel di baik di darat maupun di wilayah perairan Gaza.
Pada misi kali ini, melibatkan sekitar puluhan kapal sipil yang berisi ribuan aktivis dari 45 lebih negara. Misi ini disebut sebagai salah satu armada sipil terbesar dalam sejarah bantuan kemanusiaan menuju Gaza di tengah blokade tentara Israel.
Pada Senin (18/5/2026) sekitar pukul 08.00 waktu Turki, Armada Global Sumud Flotilla, kapal yang mengangkut relawan dan logistik, melanjutkan pelayaran dari pelabuhan di Turki. Kapal-kapal tiba di perairan Siprus, sekitar 300 mil laut dari Gaza.
Sekitar pukul 10:30 waktu Siprus, GSF melakukan siaran langsung (live) yang menunjukkan bahwa kapal militer Israel mendekati armada mereka. Pasukan komando Israel mulai menaiki salah satu kapal pertama.
"Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan (Israel) menaiki kapal pertama kami di siang bolong," kata GSF dalam keterangannya, Senin (18/5).
Dalam video itu, para aktivis terlihat mengangkat tangan dan mengenakan pelampung. Tak lama setelah itu, siaran langsung mereka tiba-tiba terputus.
Sekitar pukul 11.00 waktu Turki, Israel mulai melakukan intersepsi besar-besaran di perairan internasional dekat perairan Siprus, sekitar 200–250 mil dari Gaza. Pasukan Israel naik ke beberapa kapal, termasuk Kapal Josef dan Kapal Bolarize.
Kontak dengan beberapa kapal pun menghilang total. Penyelenggara GSF melaporkan terjadi penyergapan puluhan kapal yang berlangsung sepanjang hari.
Malam harinya, sekitar pukul 21.00 WIB, Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) mengumumkan 5 WNI sudah dikonfirmasi ditangkap. Empat lainnya, masih berlayar. Namun status mereka belum sepenuhnya jelas.
Dibawah ke Mana Mereka?
Menurut laporan Yedioth Ahronoth, para aktivis yang ditangkap kemudian dipindahkan ke kapal angkatan laut IDF untuk kemudian dikirim menuju Pelabuhan Ashdod.
Sejam sebelum aksi itu, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Israel mengingatkan kapal-kapal Flotilla untuk memutar balik. "Ubah tujuan dan segera memutar balik," demikian pernyataan resmi Kemenlu Israel.
Aksi penyergapan sejumlah kapal GSF itu sebelum telah direstui oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai upaya mempertahankan blokade angkatan laut IDF.
Israel mempertahankan blokade laut di lepas pantai Gaza sejak 2007 dengan dalih mencegah penyelundupan senjata ke Hamas.
GSF menegaskan bahwa seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata. Mereka adalah tenaga medis, jurnalis, dan relawan.
Aksi tentara Israel menangkap warga sipil di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.
"Sekali lagi, provokasi demi provokasi: apa yang disebut 'flotila bantuan kemanusiaan' lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan," kata GSF dalam unggahan di X.
Lebih lanjut, GSF membeberkan bahwa misi itu membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis untuk warga Palestina di Gaza, di mana kondisi kehidupan sangat memprihatinkan dan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi, meskipun ada gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas Oktober lalu. (EER)