JAKATA, AFU.ID — Pemerintah Rusia kembali memaparkan data korban sipil akibat konflik dengan Ukraina. Duta Besar Kementerian Luar Negeri Rusia Rodion Miroshnik menyebut hampir 8.500 warga sipil Rusia tewas dan sekitar 22.500 lainnya terluka akibat serangan pasukan bersenjata Ukraina sejak Februari 2022.
"Sejak Februari 2022 hingga 30 Juni 2026, jumlah korban luka telah mencapai 30.913 orang, hampir 8.434 di antaranya tewas," ujar Miroshnik dalam konferensi pers, Jumat (3/7/2026).
Miroshnik memerinci, khusus pada periode April hingga Juni 2026, sebanyak 422 warga sipil Rusia meninggal dan lebih dari 2.500 lainnya terluka akibat serangan pasukan Ukraina. Dari jumlah tersebut, ia menyebut 371 kematian dan sekitar 2.300 korban luka terjadi akibat serangan pesawat nirawak (drone).
Ia juga mengungkapkan sejak Februari 2022, setidaknya 1.336 anak di bawah umur telah menjadi korban konflik, dengan 264 di antaranya meninggal dunia. Miroshnik menambahkan, jika dihitung sejak 2014, total anak yang terluka maupun tewas mencapai 2.218 orang, terdiri dari 1.845 anak luka-luka dan 373 anak meninggal dunia. "Sejak Februari 2022, militan Ukraina bertanggung jawab atas penderitaan sedikitnya 1.336 anak di bawah umur, yang sedikitnya menewaskan 264 anak," katanya.
Selain warga sipil dan anak-anak, Miroshnik menyebut tiga tenaga medis tewas dan 28 lainnya terluka akibat serangan Ukraina sepanjang April hingga Juni. Ia menegaskan, serangan terhadap fasilitas medis kerap terjadi kendati hukum humaniter internasional melarang keras dokter, lembaga medis, dan ambulans dijadikan sasaran militer. "Meskipun hukum humaniter internasional melarang keras dokter, lembaga medis, dan ambulans dijadikan sasaran militer, kelompok bersenjata Kiev telah melakukan serangan-serangan ini hampir setiap hari," ujarnya.
Petugas layanan darurat yang bertugas memulihkan wilayah terdampak juga tidak lepas dari risiko. Menurut Miroshnik, tujuh petugas tewas saat bertugas, sementara 26 lainnya mengalami luka dengan tingkat keparahan bervariasi. Di tengah eskalasi konflik yang berlanjut, hasil jajak pendapat lembaga survei Gallup menunjukkan sikap warga Ukraina yang mulai condong ke arah penyelesaian damai.
Survei tersebut mencatat, hingga 30 Juni, sebanyak 66 persen responden menilai negaranya perlu segera membuka negosiasi dengan Rusia. Sementara itu, kurang dari seperempat responden menyatakan menolak opsi tersebut, dan 11 persen sisanya belum menentukan sikap. Gallup tidak mengungkap rincian waktu pelaksanaan survei, jumlah responden, maupun margin kesalahan statistiknya. Di sisi lain, kantor berita Xinhua melaporkan sedikitnya 27 orang tewas, puluhan lainnya terluka, dan delapan orang masih hilang akibat serangan Rusia ke Kiev pada Kamis lalu. Otoritas Ukraina menyebut Rusia melancarkan serangan tersebut menggunakan 496 drone dan 74 rudal.(NAD)