JAKARTA, AFU.ID - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan mulai meragukan kelayakan Wakil Presiden JD Vance untuk menjadi penerusnya dalam Pemilu Presiden 2028 mendatang. Kabar ini diungkap oleh The New York Times berdasarkan keterangan dari sejumlah sumber yang mengetahui dinamika internal Gedung Putih.
Menurut laporan tersebut, Trump belakangan ini secara rutin melakukan "jajak pendapat" pribadi kepada para tamu dan pendukungnya. Ia kerap meminta pendapat untuk membandingkan kelayakan antara JD Vance dan Menteri Luar Luar Negeri Marco Rubio sebagai kandidat masa depan Partai Republik. Namun, NYT menyebut Trump sejauh ini menunjukkan indikasi tidak mendukung keduanya.
"Saat menilai Vance, Trump sering membandingkan kinerja sang wakil presiden dengan pencapaian dirinya sendiri. Trump bahkan berulang kali menyindir bahwa Vance tidak akan pernah memenangkan pemilihan politik yang kompetitif tanpa adanya bantuan dari dirinya," tulis laporan NYT, Sabtu (30/5/2026).
Selain masalah elektabilitas, Trump dilaporkan mengkritik etos kerja dan beberapa perilaku Vance yang dianggap kurang pantas untuk seorang wakil presiden. Trump menyindir jumlah hari libur yang diambil Vance selama menjabat, sementara dirinya sendiri dikenal jarang mengambil cuti.
Beberapa insiden kecil juga tak luput dari sorotan Trump, termasuk momen ketika Vance menjatuhkan trofi kejuaraan sepak bola negara bagian Ohio di halaman Selatan Gedung Putih tahun lalu. Trump juga mengeluhkan kebiasaan Vance yang kerap sibuk menggeser layar ponsel dan menggunakan media sosial untuk berdebat langsung dengan para kritikus.
Meskipun Trump sendiri sangat aktif di platform Truth Social, ia diketahui hampir tidak pernah menghabiskan waktu untuk melayani adu argumen dengan pengguna lain. Masalah ini bahkan membuat Kepala Staf Gedung Putih, Susie Wiles, baru-baru ini menyarankan Vance untuk beristirahat dari media sosial demi menjaga wibawa jabatannya.
JD Vance (James David Vance) awalnya adalah seorang penulis buku terlaris berjudul "Hillbilly Elegy" dan pengusaha modal ventura sebelum terjun ke politik. Hubungannya dengan Donald Trump memiliki rekam jejak yang sangat unik. Pada masa Pemilu AS 2016, Vance adalah seorang kritikus garis keras Trump. Ia bahkan pernah menyebut Trump sebagai sosok "idiot" dan secara privat menyamakannya dengan "Hitler-nya Amerika".
Peta hubungan berubah total saat Vance maju dalam pemilihan Senat AS mewakili Ohio pada 2022. Vance mengubah haluan politiknya menjadi pendukung gerakan MAGA (Make America Great Again). Berkat endorsement kuat dari Trump, Vance berhasil memenangkan kursi Senat.
Loyalitas absolut Vance di Senat akhirnya membuat Trump kepincut dan secara resmi memilih politisi muda berusia 41 tahun tersebut sebagai pendampingnya (Wakil Presiden) dalam memenangkan Pemilu AS.
Konstitusi Amerika Serikat membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode, yang berarti Donald Trump dipastikan tidak bisa lagi mencalonkan diri pada Pemilu November 2028. Kondisi ini memaksa Partai Republik untuk segera menjaring figur pemimpin baru.
Meski diterpa isu keraguan dari Trump, orang-orang terdekat di lingkaran istana meyakini bahwa Vance tetaplah sosok yang paling tepat untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan.
Selain nama JD Vance dan Marco Rubio, Trump sebelumnya sempat menyebut beberapa nama potensial lain yang masuk dalam radar pengawasannya, termasuk Menteri Keuangan Scott Bessent dan mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem.
(ANT/MAR)