Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA AFU.ID — Korea Utara (Korut) menuding Amerika Serikat (AS) memperburuk ketegangan di Semenanjung Korea melalui peningkatan pasokan senjata kepada negara-negara sekutunya. Pyongyang menilai langkah tersebut mengganggu keseimbangan militer regional dan memicu eskalasi konflik baru.
Tuduhan itu muncul setelah AS menyetujui penjualan perangkat pendukung amunisi presisi kepada Korea Selatan (Korsel) senilai 106 juta dolar AS atau sekitar Rp1,9 triliun. Korut menegaskan akan merespons perkembangan tersebut dengan memperkuat kemampuan pertahanan dan penangkalannya.
"Penjualan senjata AS yang sembrono menambah ketidakpastian di tingkat regional dan internasional serta tak terelakkan akan memicu penyalahgunaan kekuatan," kata pejabat tersebut seperti dikutip KCNA, Minggu (8/6/2026). Menurut Pyongyang, penguatan kemampuan militer Korsel yang didukung AS menunjukkan perubahan peran pasukan AS di Semenanjung Korea, dengan Seoul kini ditempatkan sebagai garda terdepan dalam menghadapi Korut.
Korut juga menuding AS terus memperluas pengiriman persenjataan ofensif ke berbagai sekutunya di Asia dalam beberapa bulan terakhir. Selain menyetujui pengiriman perangkat amunisi terbaru ke Korsel, AS disebut telah memberikan lampu hijau untuk pasokan bom berpemandu jarak jauh GBU-39, helikopter maritim MH-60R, hingga komponen helikopter serang AH-64E Apache.
Korea Utara juga menyoroti dukungan AS terhadap rencana Korsel mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir. Tak hanya itu, Pyongyang menuding Washington memperkuat Taiwan melalui penjualan sistem roket HIMARS, rudal antitank Javelin, howitzer, hingga berbagai perlengkapan militer lainnya.
Jepang juga disebut masuk dalam agenda penguatan militer AS melalui rencana transfer senjata serang jarak jauh, termasuk rudal jelajah Tomahawk. Menanggapi perkembangan tersebut, Korut menegaskan akan terus mengembangkan kemampuan militer baik secara simetris maupun asimetris untuk menghadapi apa yang disebut sebagai penumpukan senjata oleh negara-negara musuh.
Menurut pejabat tersebut, Pyongyang akan mempercepat modernisasi kemampuan pertahanan diri dan sistem penangkalan strategis guna menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan. Korut menilai kebijakan perdagangan senjata dan peningkatan kekuatan militer yang dilakukan negara-negara lawan tidak akan mampu mengubah posisi strategis negaranya di kawasan. (ANT/RAI)