JAKARTA, AFU.ID - Blok politik sayap kanan di pemerintahan Israel mulai mendorong perluasan agresi militer ke Lebanon. Desakan itu tidak hanya menyasar Hezbollah, tetapi juga membuka opsi pendudukan wilayah hingga penangkapan perempuan dan anak-anak. Seruan keras itu muncul dalam pertemuan Kabinet Keamanan Israel pada Senin malam.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir meminta pemerintah mengambil langkah yang lebih ekstrem dalam menghadapi Hezbollah. “Kita harus berpikir di luar kotak mengenai Hezbollah, dan kita juga harus mempertimbangkan untuk menduduki wilayah dan membunuh banyak teroris,” kata Ben-Gvir, seperti dikutip surat kabar Maariv.
Ben-Gvir juga menyerukan penangkapan terhadap warga sipil. Ia menyebut perempuan dan anak-anak sebagai sasaran tekanan untuk melemahkan kelompok lawan. Ben-Gvir menyerukan untuk “menangkap perempuan dan anak-anak,” lalu menambahkan, “Inilah yang paling menyakiti mereka.”
Dorongan memperluas operasi militer juga datang dari pejabat Israel lainnya. Menteri Urusan Permukiman Orit Strock secara terbuka menyerukan pendudukan wilayah di Lebanon.
Sementara itu, Menteri Pembangunan Perbatasan, Negev, dan Galilea Yitzhak Wasserlauf menilai Israel membutuhkan tambahan persenjataan besar untuk menghadapi situasi tersebut. “Israel membutuhkan banyak senjata,” ujar Wasserlauf dalam pertemuan tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menuduh Hezbollah sengaja menyeret Israel ke konflik berkepanjangan. Ia menyebut Hezbollah berusaha membawa Israel ke dalam “perang atrisi.” Pernyataan itu muncul ketika ketegangan di perbatasan Israel-Lebanon terus meningkat. Diplomasi regional juga belum menunjukkan tanda meredanya konflik.
Dahiyeh Kembali Dibidik Israel
Tekanan Israel kemudian mengarah lagi ke Dahiyeh, kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah. Meski wilayah itu sudah beberapa kali menjadi target serangan, Menteri Kebudayaan dan Olahraga Israel Miki Zohar menyerukan peningkatan serangan udara ke Dahiyeh, kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah.
Zohar juga memperingatkan Iran agar tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut. “Saya yakin warga Iran memahami bahwa memasuki konfrontasi langsung dengan Israel adalah tindakan yang tidak bijaksana,” kata Zohar kepada radio lokal Israel 103 FM. Ia kemudian menegaskan bahwa Israel akan langsung menyerang Dahiyeh jika Hezbollah kembali menembaki kota-kota Israel.
“Lain kali Hezbollah menembaki kota-kota Israel, kami akan segera menyerang Dahiyeh, dan Iran akan mencoba lagi, jadi biarkan mereka mencoba,” ucap Zohar. Zohar juga membawa pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam ancaman terhadap Iran.
“(Perdana Menteri Benjamin) Netanyahu menegaskan bahwa jika Iran mencoba merugikan kita, kita akan menghancurkannya secara total,” tambahnya. Ia bahkan mengklaim Israel sedang membentuk ulang kawasan Timur Tengah melalui kebijakan militernya.
“Kami terus membentuk Timur Tengah sebagaimana mestinya,” kata Zohar. Ancaman terhadap Dahiyeh turut diperkuat Menteri Pertahanan Israel Israel Katz. Ia menyamakan nasib kawasan tersebut dengan kota-kota di utara yang menjadi target serangan.
Selama pertemuan Kabinet, Katz mengatakan “nasib Dahiyeh di Beirut adalah nasib kota-kota di utara.” Katz juga menolak ancaman Iran dan menyatakan Israel akan merespons setiap serangan dengan kekuatan besar.
“Kami dengan tegas menolak ancaman Iran, dan setiap upaya Iran untuk menghubungkan Lebanon dengan Iran atau menyerang Israel akan dihadapi dengan kekuatan besar, seperti yang terjadi kemarin,” kata Katz. Konflik Israel dan Hezbollah kembali meningkat setelah operasi lintas batas Hezbollah pada 2 Maret lalu. Israel kemudian membalas dengan kampanye udara besar-besaran ke Lebanon.
Agresi militer Israel ke Lebanon sejauh ini disebut telah menewaskan lebih dari 3.600 orang. Selain itu, lebih dari 11.100 orang luka-luka dan sekitar 1 juta warga mengungsi. Pasukan Israel juga dilaporkan telah masuk sejauh 10 kilometer ke wilayah Lebanon. (FAD)