JAKARTA AFU.ID — Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan kelompoknya tidak akan menyerahkan senjata meski terus mendapat tekanan dari Israel maupun sejumlah pihak internasional.
Menurut Qassem, upaya perlucutan senjata hanya akan membuka jalan bagi pendudukan Israel secara bertahap di Lebanon.
Dalam pidato yang disiarkan televisi Al-Manar pada Minggu (24/5/2026), Qassem menyebut Hizbullah akan terus melawan Israel. Ia mengatakan kelompoknya kini berada dalam ancaman langsung dan siap menghadapi dua kemungkinan, yakni kemenangan atau kematian.
Qassem juga menuduh Israel tengah menjalankan proyek “Israel Raya” dengan tujuan memperluas pendudukan hingga ke wilayah Lebanon. Karena itu, ia menegaskan Hizbullah tidak akan mundur meski perang telah menimbulkan kehancuran besar dan ribuan korban jiwa.
Selain itu, ia meminta pemerintah Lebanon tetap menempuh jalur perundingan tidak langsung dengan Israel. Qassem juga memperingatkan pemerintah agar tidak membuat konsesi kepada Amerika Serikat maupun Israel yang dianggap merugikan kelompok perlawanan di Lebanon.
Sementara itu, konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah terus memanas. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat jumlah korban tewas akibat serangan Israel kini telah melampaui 3.000 orang.
Dari total korban jiwa tersebut, sedikitnya 292 perempuan dan 211 anak-anak dilaporkan ikut tewas akibat rentetan serangan udara yang menggempur sejumlah wilayah Lebanon. Konflik juga memicu kerusakan besar di berbagai kawasan permukiman.
Pertempuran terbaru pecah sejak awal Maret lalu setelah Hizbullah meluncurkan serangan ke wilayah Israel. Serangan itu terjadi dua hari usai Amerika Serikat bersama Israel menggempur wilayah Iran, yang kemudian memicu aksi saling serang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Israel selanjutnya melancarkan invasi darat ke wilayah Lebanon selatan dan menggempur Beirut beserta daerah sekitarnya. Pemerintah Israel menyatakan operasi tersebut dilakukan untuk mencegah Hizbullah memperkuat persenjataan dan memperluas serangan ke wilayah Israel.
Di tengah konflik yang terus meluas, lebih dari satu juta warga Lebanon dilaporkan mengungsi dari rumah mereka. Banyak warga kini bertahan di tenda-tenda darurat di sepanjang jalan dan kawasan pesisir Beirut, sementara serangan drone Hizbullah masih terus membayangi pasukan Israel di wilayah perbatasan. (ANT/RAI)