Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Diduga Membelot Dukung Ukraina, Rusia Resmi Keluarkan Surat Penangkapan Bos Telegram
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Pemerintah Rusia telah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Pavel Durov, pendiri dan CEO Telegram, dengan tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme melalui kegagalannya menghapus konten yang digunakan oleh badan intelijen Ukraina dan kelompok teroris. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menyatakan bahwa dakwaan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat pengawasan terhadap ruang digital dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada Telegram, yang tetap menjadi salah satu aplikasi komunikasi paling populer di Rusia. Durov, yang kini memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab, belum memberikan tanggapan resmi terkait dakwaan tersebut, meskipun ia sebelumnya mengekspresikan kebanggaan jika dianggap bersalah karena membela kebebasan berbicara.
Pavel Durov, pendiri platform komunikasi Telegram resmi didakwa sebagai pendukung terorisme. (FOTO AAFUID)
Jakarta, AFU.ID — Pemerintah Rusia resmi mendakwa pendiri dan CEO Telegram Pavel Durov atas tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme. Atas dakwaan itu, Rusia mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap pengusaha teknologi itu. Langkah itu menandai eskalasi terbaru perseteruan panjang antara Moskow dan pendiri aplikasi pesan yang masih digunakan secara luas di Rusia.
Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengumumkan pada Rabu (29/7/2026) bahwa Durov dijerat tuduhan karena Telegram diduga gagal menghapus materi yang digunakan badan intelijen Ukraina serta kelompok teroris dan ekstremis untuk menyiapkan dan mengoordinasikan aksi sabotase, serangan teror, pembunuhan massal, hingga penipuan siber di wilayah Rusia. FSB juga menyatakan pemberitahuan pencarian internasional telah diterbitkan terhadap Durov. “Pemberitahuan pencarian internasional telah dirilis terhadap pimpinan administrasi Telegram, P. Durov,” demikian pernyataan FSB.
Menurut FSB, dakwaan tersebut berkaitan dengan dugaan kegagalan Telegram menghapus konten yang dianggap dilarang oleh otoritas Rusia. Materi itu disebut digunakan oleh badan keamanan Ukraina dan organisasi yang dikategorikan Rusia sebagai kelompok teroris maupun ekstremis untuk mempersiapkan dan mengoordinasikan berbagai operasi di dalam negeri. “Materi tersebut digunakan oleh dinas khusus Ukraina serta organisasi teroris dan ekstremis untuk mempersiapkan dan mengoordinasikan aksi sabotase dan terorisme, pembunuhan massal, serta operasi penipuan siber di wilayah Federasi Rusia,” kata FSB.
Durov maupun pihak Telegram belum memberikan tanggapan resmi atas dakwaan dan surat perintah penangkapan tersebut. Namun, tidak lama setelah pengumuman FSB, akun resmi Telegram di platform X mengunggah gambar Durov yang memperlihatkan gestur mengacungkan jari tengah. Tidak ada penjelasan tambahan yang menyertai unggahan itu. Kasus terhadap Durov bukan muncul secara tiba-tiba. Otoritas Rusia telah membuka penyelidikan terkait dugaan aktivitas terorisme terhadap pendiri Telegram itu sejak awal tahun ini. Pada April lalu, Durov mengungkapkan bahwa surat panggilan sebagai “tersangka” telah dikirimkan ke sebuah apartemen di Rusia yang pernah ditempatinya sekitar dua dekade lalu.
Menanggapi surat tersebut, Durov menyindir bahwa dirinya mungkin dicurigai karena membela ketentuan dalam Konstitusi Rusia yang menjamin kebebasan berbicara dan kerahasiaan komunikasi pribadi. Ia juga menyatakan bangga apabila dianggap bersalah karena mempertahankan hak-hak tersebut. Langkah hukum terbaru ini berlangsung di tengah upaya pemerintah Rusia memperketat pengawasan terhadap ruang digital dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada Telegram. Moskow dalam beberapa tahun terakhir berulang kali berusaha membatasi penggunaan aplikasi tersebut, sembari mempromosikan layanan pesan alternatif yang didukung negara bernama MAX.
Aplikasi Paling Populer di Rusia
Telegram tetap menjadi salah satu platform komunikasi paling populer di Rusia dan digunakan secara luas oleh berbagai kelompok, mulai dari pejabat pemerintah, lembaga negara, media, blogger pro-Kremlin, hingga kelompok oposisi. Kremlin dan Kementerian Pertahanan Rusia juga masih aktif menggunakan Telegram untuk menyebarkan informasi kepada publik. Telegram yang didirikan Durov pada 2013 menyatakan telah memiliki lebih dari satu miliar pengguna di seluruh dunia. Aplikasi tersebut digunakan secara luas oleh kedua pihak dalam perang Rusia-Ukraina, termasuk untuk menyebarkan informasi, mengoordinasikan kegiatan, dan menyampaikan perkembangan di medan perang.
Sebelum mendirikan Telegram, Durov membangun jejaring sosial VKontakte atau VK yang kerap disebut sebagai “Facebook-nya Rusia”. Namun, ia meninggalkan perusahaan tersebut pada 2014 setelah tekanan dari otoritas Rusia meningkat. Durov kemudian menjual sisa kepemilikannya dan menetap di luar negeri. Durov lahir di Saint Petersburg, kota yang juga menjadi tempat kelahiran Presiden Rusia Vladimir Putin. Meski lahir di Rusia, Durov kini memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab. Lokasi keberadaannya saat ini belum diketahui secara pasti, meskipun sejumlah unggahan terbarunya menunjukkan ia sempat berada di Dubai dan Georgia.
Selain menghadapi perkara di Rusia, Durov juga sedang menjalani proses hukum di Prancis. Otoritas Prancis menyelidiki dugaan bahwa Telegram tidak cukup mencegah aktivitas kriminal di platformnya serta tidak memadai dalam memenuhi permintaan kerja sama dari aparat penegak hukum. Durov membantah melakukan pelanggaran. Telegram sebelumnya menegaskan bahwa perusahaan mematuhi hukum Uni Eropa dan terus meningkatkan sistem moderasi di platformnya. (EER)