AFU.id

Diduga Membelot Dukung Ukraina, Rusia Resmi Keluarkan Surat Penangkapan Bos Telegram

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Pemerintah Rusia telah mengeluarkan surat perintah penangkapan internasional terhadap Pavel Durov, pendiri dan CEO Telegram, dengan tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme melalui kegagalannya menghapus konten yang digunakan oleh badan intelijen Ukraina dan kelompok teroris. Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menyatakan bahwa dakwaan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperketat pengawasan terhadap ruang digital dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada Telegram, yang tetap menjadi salah satu aplikasi komunikasi paling populer di Rusia. Durov, yang kini memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab, belum memberikan tanggapan resmi terkait dakwaan tersebut, meskipun ia sebelumnya mengekspresikan kebanggaan jika dianggap bersalah karena membela kebebasan berbicara.

Diduga Membelot Dukung Ukraina, Rusia Resmi Keluarkan Surat Penangkapan Bos Telegram
Pavel Durov, pendiri platform komunikasi Telegram resmi didakwa sebagai pendukung terorisme. (FOTO AAFUID)

Telegram tetap menjadi salah satu platform komunikasi paling populer di Rusia dan digunakan secara luas oleh berbagai kelompok, mulai dari pejabat pemerintah, lembaga negara, media, blogger pro-Kremlin, hingga kelompok oposisi. Kremlin dan Kementerian Pertahanan Rusia juga masih aktif menggunakan Telegram untuk menyebarkan informasi kepada publik. Telegram yang didirikan Durov pada 2013 menyatakan telah memiliki lebih dari satu miliar pengguna di seluruh dunia. Aplikasi tersebut digunakan secara luas oleh kedua pihak dalam perang Rusia-Ukraina, termasuk untuk menyebarkan informasi, mengoordinasikan kegiatan, dan menyampaikan perkembangan di medan perang.

Sebelum mendirikan Telegram, Durov membangun jejaring sosial VKontakte atau VK yang kerap disebut sebagai “Facebook-nya Rusia”. Namun, ia meninggalkan perusahaan tersebut pada 2014 setelah tekanan dari otoritas Rusia meningkat. Durov kemudian menjual sisa kepemilikannya dan menetap di luar negeri. Durov lahir di Saint Petersburg, kota yang juga menjadi tempat kelahiran Presiden Rusia Vladimir Putin. Meski lahir di Rusia, Durov kini memegang kewarganegaraan Prancis dan Uni Emirat Arab. Lokasi keberadaannya saat ini belum diketahui secara pasti, meskipun sejumlah unggahan terbarunya menunjukkan ia sempat berada di Dubai dan Georgia.

Selain menghadapi perkara di Rusia, Durov juga sedang menjalani proses hukum di Prancis. Otoritas Prancis menyelidiki dugaan bahwa Telegram tidak cukup mencegah aktivitas kriminal di platformnya serta tidak memadai dalam memenuhi permintaan kerja sama dari aparat penegak hukum. Durov membantah melakukan pelanggaran. Telegram sebelumnya menegaskan bahwa perusahaan mematuhi hukum Uni Eropa dan terus meningkatkan sistem moderasi di platformnya. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi