AFU.ID - Presiden Donald Trump pada Minggu pagi mengumumkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai blokade terhadap kapal-kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz. Langkah dramatis yang diumumkan melalui platform Truth Social ini memicu kebingungan, mengingat selama beberapa pekan terakhir AS terus menuntut Iran untuk membuka jalur perairan tersebut secara tanpa syarat.
Terkait keputusan tersebut, Trump menuliskan pernyataannya:
"Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses PEMBLOKIRAN terhadap semua Kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz," tulis Trump dikutip dari Times Now News, Senin 13 April 2026.
Ia juga menambahkan bahwa pada akhirnya selat tersebut akan kembali beroperasi penuh di kedua arah, namun secara tegas menyalahkan Teheran atas terjadinya krisis saat ini.
Fakta di Lapangan: Jalur Tidak Sepenuhnya Tertutup
Keputusan untuk memblokade selat ini memunculkan pertanyaan tentang motif AS, mengingat Selat Hormuz saat ini tidak sepenuhnya ditutup oleh Iran.
Berdasarkan laporan CNN, Iran hanya melakukan pembatasan selektif dengan mengizinkan kapal tanker melintas asalkan membayar biaya tol yang dilaporkan mencapai $2 juta per kapal.
Di sisi lain, aktivitas ekspor minyak Iran sendiri tetap berjalan lancar. Perusahaan data dan analitik Kpler mencatat bahwa Iran mengekspor rata-rata 1,85 juta barel minyak mentah per hari sepanjang bulan Maret, meningkat sekitar 100.000 barel per hari dibandingkan kuartal sebelumnya.
Perubahan Drastis Strategi AS
Sebelum pengumuman blokade ini, pemerintahan Trump telah mengambil langkah yang cukup toleran terhadap aktivitas minyak Iran di kawasan tersebut demi menjaga stabilitas harga minyak dunia.
• Pemberian Lisensi Sementara: Pada bulan Maret lalu, AS bahkan memberikan izin sementara selama satu bulan yang memungkinkan Iran menjual sekitar 140 juta barel minyak mentah yang tertahan di laut.
• Tujuan Awal: Langkah ini, bersamaan dengan pelepasan cadangan minyak darurat dan pencabutan sanksi terhadap minyak Rusia, dirancang semata-mata untuk membanjiri pasar dan mencegah lonjakan harga bahan bakar domestik AS.
• Kontroversi Kebijakan: Keputusan pelonggaran tersebut sempat dikritik karena secara efektif membiarkan Iran, yang menjual minyaknya dengan harga premium, mendapatkan dana segar yang dapat digunakan untuk membiayai konflik melawan AS dan sekutunya.
Risiko Ekonomi yang Signifikan
Melalui ancaman penutupan Selat Hormuz secara total, Trump kini menggunakan instrumen ekonomi yang paling agresif. Tujuannya adalah untuk memutus sumber pendapatan utama bagi pemerintahan dan militer Teheran demi mempercepat penghentian konflik.
Namun, pertaruhan ini membawa risiko ekonomi yang sangat besar. Blokade penuh atas Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas di seluruh dunia, sebuah skenario yang selama ini justru dihindari oleh pemerintahan AS di tengah tekanan publik terkait tingginya biaya bahan bakar. Keberhasilan taktik ini, apakah akan memaksa resolusi damai atau justru memperburuk krisis global, masih harus dibuktikan dalam beberapa waktu ke depan. (fad/asw)