Jakarta, AFU.ID — Amerika Serikat dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang terdiri dari 14 poin, menandai babak baru dalam upaya mengakhiri konflik bersenjata antara kedua negara yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026.
Penandatanganan bersejarah ini dilakukan secara virtual oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026) malam waktu setempat, di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian-les-Bains, Prancis.
Momen penandatanganan dokumen tersebut berlangsung di Istana Versailles, Paris, tepat sebelum jamuan makan malam yang diselenggarakan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Macron turut menyaksikan langsung dan mengabadikan momen tersebut melalui unggahan di akun media sosial X miliknya.
"Ini bukan hal mudah," ucap Trump usai menandatangani dokumen, sebagaimana dilihat dalam unggahan Macron. Pernyataan tersebut kemudian disambut tepuk tangan dari Macron, Rubio, dan seluruh pejabat yang hadir di ruangan tersebut. Trump pun memamerkan kertas memorandum perjanjian damai yang telah dibubuhi tanda tangannya.
Dalam unggahan di akun X miliknya, Macron menyebut penandatanganan memorandum itu sebagai momentum penting bagi AS dan Iran. Nota tersebut, kata Macron, juga menjadi pembuka bagi terbukanya Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari seluruh dunia.
"Ini adalah langkah penting ke arah yang benar bagi rekan-rekan sesama warga kita yang akan memungkinkan penurunan harga energi dalam waktu dekat," tulis Macron di akun X.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengonfirmasi bahwa memorandum ditandatangani dalam bahasa Inggris dan Farisi — penggunaan dua bahasa tersebut merupakan permintaan dari pihak Iran. "Ini mewakili tingkat transparansi tertinggi dalam komunikasi publik kami," kata Baghaei.
Meskipun penandatanganan secara fisik di Swiss dijadwalkan pada Jumat (19/6/2026), Iran memutuskan untuk mempercepat proses melalui penandatanganan virtual. "Kami meneliti lebih lanjut dan menyimpulkan bahwa pilihan yang lebih baik adalah agar teks tersebut ditandatangani secara virtual oleh presiden kedua negara," jelas Baghaei. Ia menambahkan bahwa tanda tangan digital oleh pejabat tertinggi kedua negara akan meningkatkan "biaya pelanggaran" terhadap kesepakatan.
Harga Minyak Dunia Langsung Terkoreksi
Kabar penandatanganan kesepakatan damai tersebut langsung berdampak pada pasar energi global. Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (18/6/2026), melanjutkan tren penurunan yang sempat terhenti sehari sebelumnya setelah Trump menyatakan dapat melanjutkan operasi militer terhadap Iran apabila para pemimpin negara itu "tidak berperilaku baik".
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 89 sen atau 1,12 persen menjadi US$78,66 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 98 sen atau 1,28 persen ke level US$75,81 per barel. Pada perdagangan pagi hari, penurunan bahkan sempat lebih dalam dengan WTI turun 3,4 persen menjadi US$74,18 per barel dan Brent turun 3,02 persen menjadi US$77,15 per barel.
Analis IG Market Tony Sycamore mengatakan pasar energi semakin agresif memperhitungkan potensi kembalinya pasokan minyak Iran ke pasar global lebih cepat dari perkiraan.
"Penurunan harga berlanjut karena pasar energi terus memperhitungkan kembalinya pasokan minyak Iran lebih cepat setelah memorandum kesepahaman antara AS dan Iran," ujar Sycamore dalam catatannya.
Kesepakatan yang ditandatangani kedua negara membuka masa negosiasi selama 60 hari. Dalam periode tersebut, Iran akan mengizinkan kapal-kapal melintas di Selat Hormuz tanpa biaya tambahan. Perjanjian itu juga menargetkan pemulihan penuh lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Jalur strategis tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas dunia, yang sebelumnya ditutup secara efektif oleh Teheran setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari.
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan apabila kesepakatan berjalan sesuai rencana dan Selat Hormuz kembali beroperasi normal, krisis pasokan minyak yang terjadi tahun ini berpotensi berubah menjadi kelebihan pasokan global pada 2027.
Dalam laporan pasar bulanannya yang dirilis Rabu, IEA memperkirakan pasokan minyak dunia tahun depan akan melampaui permintaan hingga 5,05 juta barel per hari seiring kembalinya produksi minyak Timur Tengah ke pasar internasional.
Trump: Kami Telah Lama Makan Uang Iran, Saatnya Mengembalikan
Di tengah proses diplomatik yang terus bergulir, Presiden AS Donald Trump membela keputusannya untuk mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan sebagai bagian dari kesepakatan. Dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 di Prancis, Trump menyatakan bahwa Amerika telah lama "memakan" uang Iran dan sudah saatnya mengembalikannya.
"Kami telah menerima banyak uang mereka, dan kami memiliki uang mereka," kata Trump, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Kamis (18/6/2026). "Itu bukan uang kami, itu uang mereka, dan kami membekukannya pada titik waktu tertentu. Saya rasa kami harus mengembalikannya. Anda tahu, jika kami tidak mengembalikannya, tidak akan ada yang mau berinvestasi dalam dolar lagi," paparnya.
Trump menyatakan bahwa meskipun mempertahankan dana Iran tersebut mungkin tampak menarik dari sudut pandang politik, melakukannya dapat memiliki konsekuensi jangka panjang bagi kredibilitas sistem keuangan AS.
"Saya memikirkannya. Saya berkata, 'Bagaimana jika kami menyimpan uang mereka? Apa gunanya kami mengembalikannya kepada mereka?'," kata Trump. "Namun, orang-orang dari banyak negara — beberapa negara yang tidak kami setujui — mereka memiliki uang mereka. Dolar menjadi sangat kuat di bawah kepemimpinan saya, dan mereka tidak ingin berkonflik dengan seseorang dan akhirnya Amerika Serikat mengambil uang mereka. Jadi, jika Anda melakukan itu, Anda sebenarnya tidak memiliki sistem," imbuh dia.
Berdasarkan dokumen MoU, AS berjanji bersama mitra regional untuk mengembangkan rencana definitif yang disepakati bersama dengan setidaknya US$300 miliar untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. Namun Trump menegaskan bahwa AS tidak akan memberikan uang tunai secara langsung.
"Kami tidak akan memberikan uang. Hanya jika mereka melakukan hal yang benar. Jika mereka melakukan hal yang benar, jika orang ingin berinvestasi, mereka dapat berinvestasi. Mereka memiliki dana sebesar 300 miliar dolar. Itu hanya jika mereka melakukan hal yang benar," kata Trump. "Ingat juga ini, ketika Anda berbicara tentang 'miliaran dolar', mereka telah mengalami kerugian yang jauh lebih besar dari satu triliun dolar," imbuhnya.
Mengenai kemungkinan pencabutan sanksi untuk Iran, Trump mengatakan, "Sesuatu akan terjadi segera setelah mereka berperilaku baik."
Isi 14 Poin MoU Damai AS-Iran
MoU 14 poin yang dirilis oleh pihak Iran dan dikonfirmasi oleh pejabat AS mencakup sejumlah komitmen strategis dari kedua belah pihak. Berikut ringkasan pokok-pokok kesepakatan tersebut:
1. Penghentian operasi militer di semua lini — AS, Iran, dan sekutu mereka mendeklarasikan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon, serta berjanji untuk tidak memulai perang atau operasi militer terhadap satu sama lain.
2. Penghormatan terhadap kedaulatan — Kedua negara berkomitmen menghormati kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing serta menahan diri dari campur tangan dalam urusan dalam negeri.
3. Negosiasi akhir maksimal 60 hari — AS dan Iran akan berunding untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu maksimal 60 hari, yang dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
4. Pembukaan Selat Hormuz — Iran akan mengatur perjalanan aman kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari, dengan lalu lintas penuh ditargetkan pulih dalam waktu 30 hari.
5. Pencabutan sanksi — AS berkomitmen mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran, termasuk sanksi Dewan Keamanan PBB, Dewan Gubernur IAEA, dan semua sanksi unilateral AS, dalam jangka waktu yang disepakati sebagai bagian dari perjanjian akhir.
6. Program nuklir — Iran menegaskan kembali bahwa negara tidak akan memproduksi atau memperoleh senjata nuklir, dengan isu material nuklir akan diselesaikan di bawah pengawasan IAEA.
Konflik antara AS dan Iran meletus pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran dan kota-kota Iran lainnya. Iran menanggapi dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan serta aset Israel dan AS di kawasan tersebut, seraya memperketat cengkeramannya di Selat Hormuz dengan menghalangi jalur aman kapal milik atau yang berafiliasi dengan Israel dan AS.
Kesepakatan damai yang ditandatangani secara virtual ini menjadi landasan bagi perundingan lebih lanjut yang akan menentukan masa depan hubungan AS-Iran, nasib program nuklir Teheran, serta stabilitas kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Upacara penandatanganan secara fisik di Swiss tetap dijadwalkan pada Jumat (19/6/2026) sebagai fase kedua dari proses negosiasi antara kedua negara. (EER)