JAKARTA, AFU.ID — Timnas Tanjung Verde mencuri perhatian dunia setelah nyaris menyingkirkan juara bertahan Argentina pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Negara debutan itu memaksa Lionel Messi dan kawan-kawan bermain hingga babak tambahan sebelum akhirnya menyerah tipis 2-3 akibat gol bunuh diri pada menit-menit akhir. Penampilan mengejutkan tersebut membuat banyak orang mulai penasaran dengan negara kecil yang sebelumnya jarang disorot di panggung sepak bola dunia.
Profil Tanjung Verde
Tanjung Verde atau Republik Cabo Verde merupakan negara kepulauan di Samudra Atlantik Utara yang berjarak sekitar 570 kilometer dari pesisir barat Afrika. Negara ini terdiri atas 10 pulau utama dengan luas wilayah sekitar 4.033 kilometer persegi atau bahkan lebih kecil dibandingkan Provinsi Bali. Ibu kotanya berada di Praia, menggunakan bahasa resmi Portugis dan bahasa nasional Crioulo, sementara mayoritas penduduknya menganut agama Katolik Roma.
Negara berpenduduk sekitar 525.000 hingga 600.000 jiwa itu meraih kemerdekaan dari Portugal pada 5 Juli 1975 setelah berabad-abad menjadi wilayah koloni. Hingga kini, sistem pemerintahannya berbentuk republik semi-presidensial dengan Presiden sebagai kepala negara dan Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan. Cabo Verde juga dikenal sebagai salah satu negara Afrika dengan sistem demokrasi yang relatif stabil.
Fakta Menarik Tanjung Verde
Di balik wilayahnya yang kecil, Tanjung Verde menyimpan bentang alam yang unik. Kepulauan ini terbentuk dari aktivitas vulkanik dan memiliki Gunung Pico do Fogo yang masih aktif dengan ketinggian mencapai 2.829 meter. Di dalam kaldera gunung tersebut berdiri desa Chã das Caldeiras yang dihuni ratusan penduduk, sebagian besar menggantungkan hidup dari pertanian anggur di tanah vulkanik.
Destinasi alam lainnya tak kalah menarik. Pulau Sal memiliki kawah garam Pedra de Lume yang menjadi salah satu objek wisata paling terkenal, sementara Pulau Boa Vista dan Sal dikenal sebagai salah satu kawasan terpenting di dunia bagi penyu tempayan (loggerhead turtle). Sekitar 90 persen populasi penyu tempayan yang bersarang di negara itu bertelur di Pulau Boa Vista.
Warisan sejarah Tanjung Verde juga mendapat pengakuan dunia. Kota tua Cidade Velha di Pulau Santiago ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2009 karena menjadi saksi perkembangan awal kolonialisme Portugis di Atlantik. Salah satu peninggalan paling ikonik di kawasan tersebut ialah Benteng Kerajaan São Filipe yang masih berdiri hingga kini.
Budaya Tanjung Verde merupakan perpaduan kuat antara tradisi Afrika dan Portugis. Musik morna yang dipopulerkan penyanyi legendaris Cesária Évora menjadi identitas nasional negara ini, sementara festival-festival lokal dipenuhi tabuhan drum, tarian, prosesi jalanan, hingga topeng bergaya Afrika. Pengaruh budaya tersebut juga tercermin dalam kuliner khas seperti cachupa, hidangan berbahan jagung, kacang-kacangan, pisang raja, umbi-umbian, dan daging atau ikan yang menjadi makanan nasional. (RAI)