Politik dan Tuduhan Rasisme
Penolakan terhadap Argentina juga dikaitkan dengan hubungan politik antarnegara. Di Meksiko, Presiden Claudia Sheinbaum sempat bertanya kepada para jurnalis mengenai tim yang mereka dukung dalam pertandingan final. Pertanyaan tersebut dijawab serentak dengan nama Spanyol. Profesor Antropologi Meksiko Jorge Negroe menilai dinamika politik turut mewarnai Piala Dunia 2026.
Sentimen terhadap pemerintahan Presiden Argentina Javier Milei juga menjadi pertimbangan sebagian orang untuk tidak mendukung Tim Tango. Seorang pekerja laboratorium di Chile, Rachid Sjoberg, mengaku tidak ingin kemenangan Argentina dimanfaatkan Milei sebagai komoditas politik. Faktor lain yang memengaruhi penolakan tersebut ialah tuduhan rasisme yang melibatkan sejumlah pendukung Argentina.
Tuduhan itu mencakup nyanyian ofensif terhadap asal-usul rasial pemain Perancis serta tindakan melempar pisang dan menirukan gerakan monyet kepada pendukung Brasil. Pada Piala Dunia 2026, seorang pendukung Argentina juga terekam melontarkan hinaan rasial kepada influencer asal Amerika Serikat, IShowSpeed, ketika siaran langsung. FIFA kemudian mengeluarkan draf pernyataan yang mengecam tindakan tersebut.
Lionel Messi tidak mempersoalkan penolakan yang diarahkan kepada Argentina. Ia mengatakan keberhasilan Tim Tango mencapai final diperoleh melalui pertandingan yang mereka jalani sepanjang turnamen. “Empat tahun lalu di Qatar, kami berhasil membuktikan diri menjadi yang terbaik. Kini, kami kembali menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang memberikan kami kemudahan secara cuma-cuma,” ujar Messi.
“Kami sukses menempatkan diri lagi di antara dua tim terbaik dunia. Biarlah hal itu terasa menyakitkan bagi siapa pun yang merasa sakit hati,” tegasnya. Di tengah penolakan dari sejumlah negara Amerika Latin, skuad Argentina tetap mendapatkan sambutan dari para pendukungnya di kamp pelatihan di Amerika Serikat. Mereka meneriakkan nama Messi menjelang pertandingan final melawan Spanyol. (FAD)































