JAKARTA, AFU.ID - Organisasi nirlaba global Marine Stewardship Council (MSC) resmi menjalin kolaborasi riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia (AP2HI). Langkah ini dilakukan guna memperkuat keandalan data perikanan demi mendukung pengelolaan komoditas tuna cakalang yang berkelanjutan di Indonesia.
Sinergi tersebut diwujudkan melalui peluncuran proyek penelitian berjudul “Improving the Reliability of Operational Catch and Effort Data to Support Harvest Strategy of Skipjack Tuna in Indonesia Archipelagic Waters” yang digelar di Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/6/2026).
Direktur Program MSC Indonesia, Hirmen Syofyanto, menegaskan bahwa ketersediaan data yang solid merupakan fondasi utama dalam menjaga ekosistem laut jangka panjang. "Pengelolaan yang efektif membutuhkan data yang kuat, kolaborasi multipihak, dan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan," ujar Hirmen dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (20/6/2026).
Proyek riset ini diharapkan mampu memproduksi basis data dan pembelajaran penting yang dapat menjadi acuan krusial dalam pengambilan kebijakan pengelolaan tuna cakalang di perairan Indonesia. Penelitian bersama ini akan berfokus pada peningkatan keandalan data hasil tangkapan serta pemantauan aktivitas penangkapan ikan.
Langkah taktis yang disiapkan meliputi penguatan sistem pemantauan operasional, optimalisasi penggunaan e-logbook, penempatan enumerator langsung di atas kapal penangkap ikan, dan pengembangan indeks kelimpahan stok tuna. CEO AP2HI, Janti Djuari, menambahkan bahwa peningkatan kualitas data operasional ini sangat krusial agar penilaian terhadap stok tuna cakalang di alam liar bisa dihitung secara lebih akurat.
"Dengan data yang akurat, kebijakan Harvest Strategy yang diambil akan jauh lebih efektif, objektif, dan mampu melindungi mata pencaharian nelayan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut," jelas Janti.
Di sisi lain, Kepala Pusat Riset Sistem Biota Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Decky Darmawan, menyambut baik kolaborasi ini sebagai bentuk riset yang aplikatif dan berbasis pada kebutuhan nyata masyarakat serta industri. Menurutnya, sektor perikanan tuna memegang peran vital terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat pesisir, sehingga pasokan data ilmiah yang kuat menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Sebagai salah satu negara produsen tuna terbesar di dunia, langkah pembenahan data di Indonesia dinilai menjadi preseden penting bagi perikanan global. Guna mendukung visi perikanan berkelanjutan dan peningkatan kapasitas sektor kelautan ini, MSC sendiri tercatat telah menyalurkan dana bantuan sekitar 540 ribu poundsterling di Indonesia sejak tahun 2020 melalui skema Ocean Stewardship Fund (OSF).
(ANT/MAR)