JAKARTA, AFU.ID - Jurnalis di Indonesia cenderung bergantung pada sumber-sumber dari pemerintah (45%) dan dunia usaha (40%) dalam memberitakan isu perubahan iklim. Hal itu terungkap dari analisa terhadap pemberitaan media-media di Indonesia selama ini. Hanya 5 persen media yang mengutip sumber dari ilmuwan.
Kajian yang merupakan bagian dari program “Supporting Climate Reporting in Indonesian Newsroom” yang dilaksanakan Monash Climate Communication Hub (MCCH), Australia-Indonesia Centre (AIC), dan Universitas Hasanuddin (Unhas) serta mellibatkan 15 wartawan dari Sulawesi Selatan, itu menunjukkan, pemahaman para wartawan dalam meliput dan memberitakan perubahan iklim di Indonesia tidak sebanding dengan pelatihan terkait konsep-konsep iklim maupun energi yang mereka dapatkan. Selain itu kesenjangan mencolok juga terjadi pada pemberitaan di daerah.
Media juga sangat jarang membahas hubungan antara kondisi cuaca ekstrem dengan perubahan iklim yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia. "Informasi yang dikutip dari para ilmuwan pun hanya lima persen dari keseluruhan isi berita," demikian hasil kajian tersebut, seperti yang diterima AFU.ID, Sabtu (23/5/2026).
"Kendati demikian, terdapat minat yang tinggi dari para wartawan untuk memperdalam pemahaman mereka terkait isu-isu iklim dan energi, salah satunya melalui kemudahan mengakses informasi ilmiah dan sumber-sumber yang lebih luas," lanjut hasil penelitian itu.
Isu-isu lingkungan di media di Indonesia masih banyak berfokus pada upaya tanggap bencana, ketimbang menginvestigasi penyebab perubahan jangka panjang. "Hasil kajian dari program ini menggarisbawahi kebutuhan yang mendesak untuk melengkapi para wartawan dengan pengetahuan tentang iklim dan energi, tantangan serta solusinya demi menghasilkan jurnalisme lokal yang berwawasan," demikian dikutip dari laporan tersebut.
Diketahui, wartawan yang telah mendapatkan pelatihan tentang topik perubahan iklim, cenderung lebih sering dan lebih percaya diri dalam memberitakannya. Program ini mencakup beberapa kegiatan, seperti sesi-sesi diskusi terpumpun di Makassar, mengunjungi kampung pesisir Laikang di Kabupaten Takalar untuk mengobservasi langsung tantangan iklim yang dihadapi masyarakat nelayan dan petani rumput laut.
Kolaborasi dan program ini berhasil menunjukkan adanya potensi yang besar untuk terus memperkuat hubungan antara pewarta dan para pakar maupun sumber-sumber ilmiah, serta perlunya pelatihan untuk membangun wawasan terkait perubahan iklim dan solusi yang bisa diupayakan bersama.
"Pendekatan seperti ini juga mampu mendukung para wartawan lewat peningkatan kepercayaan diri dan pemberdayaan komunikasi agar mampu menghadirkan pemberitaan iklim yang bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat di Indonesia," pungkas laporan tersebut.
MAR