JAKARTA, AFU.ID — Usulan pajak nol persen untuk impor suku cadang pesawat kembali menjadi perhatian pemerintah dan pelaku industri penerbangan karena dinilai dapat menekan biaya operasional maskapai. Jika biaya operasional turun, peluang maskapai untuk menawarkan harga tiket yang lebih terjangkau juga bisa semakin besar.
“Pajak impor suku cadang pesawat kita ini yang terbesar di kawasan Asia Tenggara,” kata Alvin saat dihubungi di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Kondisi itu membuat biaya perawatan armada maskapai menjadi lebih mahal dibandingkan negara-negara tetangga.
Menurut Alvin, sejumlah negara seperti Malaysia dan Singapura telah menerapkan tarif pajak yang sangat rendah, bahkan mendekati nol persen untuk sebagian besar komponen penerbangan. Kebijakan tersebut membuat biaya perawatan pesawat di negara-negara itu lebih efisien.
Alvin menjelaskan pajak impor yang tinggi menjadi salah satu biaya tambahan yang harus ditanggung maskapai saat melakukan perawatan pesawat. Akibatnya, total biaya operasional maskapai ikut meningkat.
Sebaliknya, jika pajak impor suku cadang diturunkan hingga nol persen, biaya perawatan dapat berkurang sehingga beban operasional maskapai menjadi lebih ringan.
Menurut dia, penghematan biaya tersebut dapat dimanfaatkan maskapai untuk memperbaiki kondisi keuangan, meningkatkan layanan, atau menawarkan tarif yang lebih kompetitif kepada penumpang. Meski demikian, penurunan biaya operasional tidak otomatis membuat harga tiket turun karena masih dipengaruhi faktor lain seperti harga avtur, nilai tukar rupiah, dan tingkat permintaan penumpang.
Ia menyebut wacana penghapusan pajak impor suku cadang sudah disampaikan pemerintah sekitar dua bulan lalu. Namun hingga kini kebijakan tersebut belum diterapkan.
Di sisi lain, Alvin menilai pengembangan industri komponen pesawat dalam negeri tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Produksi suku cadang pesawat membutuhkan standar material, tingkat presisi, sertifikasi, investasi besar, dan transfer teknologi yang ketat.
Menurut dia, bahkan komponen sederhana seperti baut pesawat memiliki spesifikasi dan proses sertifikasi yang jauh lebih rumit dibandingkan komponen industri lainnya. Karena itu, pembangunan industri suku cadang nasional membutuhkan waktu yang panjang.
Sebelumnya, Indonesian National Air Carriers Association berharap pajak nol persen untuk impor suku cadang pesawat dapat diterapkan tahun ini. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional dan memperkuat konektivitas nasional.
“Sudah diharmonisasi di Kementerian Perindustrian,” kata Agustinus.
Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Agustinus Budi Hartono juga mengatakan prosesnya kini berada di tahap Kementerian Keuangan.
Usulan pajak nol persen ini dinilai penting karena biaya perawatan pesawat merupakan salah satu pengeluaran terbesar maskapai selain bahan bakar. Jika biaya perawatan bisa ditekan, daya saing maskapai juga berpotensi meningkat.
Dengan kata lain, penghapusan pajak impor suku cadang tidak serta-merta membuat harga tiket pesawat langsung turun. Namun kebijakan tersebut dapat mengurangi biaya operasional maskapai dan membuka peluang lebih besar bagi perusahaan penerbangan untuk menawarkan tarif yang lebih murah kepada penumpang. (RHU)