JAKARTA, AFU.ID — Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mencatat lulusan Manajemen menjadi bidang studi yang paling banyak ditemukan di antara penganggur berpendidikan minimal S1. Data tersebut dihimpun berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025. Temuan ini menunjukkan sebagian pengangguran sarjana berasal dari bidang studi dengan jumlah lulusan yang relatif besar.
Berdasarkan laporan LPEM FEB UI, Manajemen menyumbang 10,3 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1. Posisi berikutnya ditempati Hukum sebesar 9,0 persen, Ekonomi 8,7 persen, Pendidikan 7,1 persen, dan Akuntansi 5,1 persen. "Lima bidang studi tersebut secara bersama-sama mencakup sekitar 40 persen dari seluruh penganggur berpendidikan minimal S1," demikian yang tertulis di dokumen LPEM FEB UI.
Besarnya proporsi tersebut juga berkaitan dengan banyaknya perguruan tinggi yang membuka program studi Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi. Lulusan dari bidang-bidang tersebut memiliki pilihan pekerjaan yang luas, tetapi juga harus bersaing di pasar kerja umum dengan lulusan dari berbagai jurusan lain. Kondisi itu menunjukkan banyaknya pilihan bidang pekerjaan tidak selalu membuat proses masuk ke dunia kerja menjadi lebih mudah.
Lulusan Informatika Juga Masuk Kelompok Penganggur
Laporan LPEM FEB UI turut mencatat bidang Informatika atau Ilmu Komputer menyumbang sekitar 4,6 persen dari penganggur berpendidikan minimal S1. Temuan ini menarik karena bidang teknologi selama ini dikenal memiliki kebutuhan tenaga kerja yang cukup besar. Namun, peluang kerja lulusan Informatika tetap dipengaruhi kemampuan praktis, pengalaman, kualitas pendidikan, serta perubahan kebutuhan industri teknologi.
Selain pengangguran, LPEM FEB UI menyoroti fenomena overeducation di Indonesia. Sekitar 8 juta lulusan sarjana disebut bekerja pada pekerjaan yang membutuhkan tingkat pendidikan lebih rendah daripada pendidikan yang mereka miliki. Kondisi tersebut dapat menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan dengan pendidikan minimal sarjana tercatat 5,39 persen pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan TPT tahun sebelumnya yang berada di level 5,25 persen. Temuan ini memperlihatkan tantangan pasar kerja bagi lulusan perguruan tinggi masih cukup besar, sehingga peningkatan kualitas pendidikan dan keterhubungan antara kampus dengan kebutuhan dunia kerja menjadi penting. (RAI)