JAKARTA, AFU.ID – Komentar yang menyalahkan korban kekerasan masih sering muncul di media sosial. Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi menjelaskan, sebagian orang kerap menilai sebuah kasus hanya dengan logika sederhana, misalnya mempertanyakan mengapa korban tidak segera menjauh dari pelaku. Padahal, korban bisa berada dalam relasi yang dikendalikan melalui tekanan emosional, ekonomi, seksual, maupun bentuk manipulasi lainnya.
“Sering muncul anggapan, ‘kalau disakiti ya pergi saja’. Padahal, dalam relasi yang penuh kekerasan, ada manipulasi psikologis dan kontrol dari pelaku yang membuat korban sulit keluar,” kata Gisella, Rabu (1/7/2026).
Menurut lulusan Universitas Indonesia tersebut, orang yang tidak pernah mengalami kekerasan dalam hubungan cenderung sulit memahami kondisi korban. Akibatnya, korban yang sudah mengalami penderitaan fisik maupun psikologis justru kembali menjadi sasaran komentar yang menyudutkan.
Gisella menilai rendahnya empati juga berperan dalam munculnya respons yang tidak sensitif. Di ruang digital, komentar sering ditulis secara cepat tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap korban. “Banyak orang mungkin sedang sibuk dengan masalahnya sendiri, sehingga ketika melihat sesuatu yang di luar pemahamannya, responsnya jadi sangat langsung dan berujung pada victim blaming,” ujarnya.
Ia menambahkan, sebagian pengguna media sosial juga belum memiliki kemampuan menyaring informasi dan menentukan batas dalam berkomentar. Hal ini membuat pengalaman korban kekerasan kerap diperlakukan sebagai bahan penilaian publik, bukan persoalan yang perlu ditanggapi dengan hati-hati. “Kita perlu mengedepankan empati, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya dialami korban,” kata Gisella.
Ia mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi korban berdasarkan potongan informasi yang beredar di media sosial. Respons yang lebih empatik dinilai penting agar korban tidak mengalami tekanan tambahan setelah menghadapi kekerasan. (RHU)