JAKARTA, AFU.ID - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah mempercepat pembangunan infrastruktur digital, peningkatan investasi operator telekomunikasi, serta perluasan akses internet hingga ke wilayah pinggiran. Langkah ini diambil demi mewujudkan target kecepatan rata-rata internet nasional mencapai 100 Mbps.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, menegaskan bahwa akses internet berkualitas tinggi kini telah menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah menargetkan lonjakan kecepatan internet tersebut dapat terealisasi secara merata dalam waktu dekat.
"Kita berkomitmen menembus 100 Mbps kira-kira di dua tahun mendatang secara merata dan juga dengan harga yang semakin murah," ujar Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Nezar menjelaskan bahwa peningkatan kualitas konektivitas ini merupakan bagian dari strategi besar Kemkomdigi melalui visi "Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga". Infrastruktur yang andal diyakini akan menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi digital, peningkatan produktivitas masyarakat, serta perluasan akses layanan publik berbasis digital.
Guna mengejar target 100 Mbps tersebut, Kemkomdigi terus mendorong para operator telekomunikasi untuk meningkatkan investasi jaringan mereka. Optimalisasi dilakukan melalui perluasan bentangan serat optik, penguatan layanan fixed broadband, hingga pemanfaatan teknologi satelit untuk menyisir wilayah yang belum terjangkau secara maksimal.
"Kemarin kita juga mendorong operator seluler dan perusahaan telekomunikasi untuk meningkatkan belanja modal mereka sehingga dapat menjangkau daerah-daerah pinggiran. Tujuannya agar masyarakat memperoleh akses internet yang semakin terjangkau dengan kualitas layanan yang semakin baik," tambah Nezar.
Meski pembangunan terus dikebut, Nezar mengakui bahwa pemerataan akses internet masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah. Hingga kini, laporan mengenai wilayah tanpa sinyal (blank spot) bahkan masih ditemukan di beberapa titik di Pulau Jawa.
Untuk mengatasi kesenjangan konektivitas tersebut, pemerintah menerapkan pendekatan yang lebih terpadu. Selain mempertahankan program pembangunan di wilayah tertinggal, Kemkomdigi mengombinasikan jaringan serat optik, layanan pita lebar tetap, dan konektivitas satelit agar pasokan internet kian andal.
Menurut Nezar, urgensi konektivitas yang tinggi ini juga sangat terasa saat penanganan bencana alam, di mana pemulihan jaringan telekomunikasi kini menjadi kebutuhan paling mendesak setelah bantuan logistik.
(ANT/MAR)