JAKARTA, AFU.ID – Pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave milik PT Freeport Indonesia belum berjalan sesuai target setelah diterjang longsoran material basah. Dampaknya, proyeksi produksi emas pada 2026 kembali turun dari 26 ton menjadi sekitar 21 ton. Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas memperkirakan perusahaan hanya mampu memproduksi 700 ribu ons emas sepanjang tahun ini. Jika dikonversikan, jumlah tersebut setara dengan sekitar 21 ton.
Proyeksi terbaru itu lebih rendah dibandingkan target sebelumnya yang mencapai sekitar 830 ribu ons atau 26 ton emas. Produksi tembaga juga diperkirakan hanya mencapai 800 juta pon pada 2026. Angka tersebut turun dari rencana sebelumnya yang berada di kisaran 1,1 miliar pon. Penurunan produksi terjadi karena kapasitas Grasberg Block Cave belum kembali normal setelah longsoran material basah pada 8 September 2025 menghentikan sebagian operasional tambang.
Pada semester pertama 2026, kapasitas produksinya masih berada di kisaran 50 persen. Freeport menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi 65 persen pada semester kedua. Dengan kapasitas tersebut, tingkat produksi Freeport pada tahun ini masih berada di bawah kondisi sebelum longsor. Pemulihan tambang dilakukan secara bertahap melalui perbaikan infrastruktur pengangkutan dan penanganan bijih di bawah tanah.
Freeport sebelumnya memperkirakan pemulihan produksi dapat berlangsung lebih cepat. Namun, kondisi material yang lebih basah serta kebutuhan perbaikan fasilitas membuat proses pemulihan membutuhkan waktu lebih lama. Lebih lanjut, rendahnya produksi tambang turut berdampak terhadap pasokan konsentrat untuk fasilitas pemurnian Freeport di Gresik, Jawa Timur.
Produksi konsentrat pada semester pertama masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan PT Smelting. Dengan kapasitas tambang yang baru mencapai sekitar 50 persen, pasokan belum cukup untuk mengoperasikan Smelter Manyar secara bersamaan. “Kalau produksi 50 persen saja, masih hanya bisa dikonsumsi oleh smelter PT Smelting,” kata Tony.
Freeport memperkirakan pasokan konsentrat ke Smelter Manyar mulai tersedia setelah kapasitas tambang meningkat menjadi 65 persen pada semester kedua. Smelter tersebut dijadwalkan mulai kembali mengolah konsentrat pada Agustus 2026. Produksi katoda tembaga ditargetkan dimulai pada September. Tambahan pasokan untuk Smelter Manyar diperkirakan baru sekitar 15 persen dan diberikan secara bertahap hingga akhir tahun.
“Sekitar segitulah 15 persen. Itu sampai akhir tahun, ya. Jadi nanti dia bertahap, nggak langsung 15 persen tambahan,” ujar Tony. Sebelum longsor terjadi, Freeport mampu menghasilkan sekitar 3,2 juta ton bijih konsentrat tembaga. Berkurangnya produksi Grasberg Block Cave membuat perusahaan belum dapat mengembalikan pasokan ke tingkat tersebut. (FAD)