JAKARTA, AFU.ID - PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia tetap bergerak kuat di kawasan intra-Asia di tengah eskalasi konflik Timur Tengah dan ketidakpastian geopolitik global. Hubungan dagang dengan Tiongkok dan negara-negara ASEAN menjadi motor utama yang mendominasi arus ekspor-impor nasional.
Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, mengungkapkan bahwa struktur perdagangan di kawasan intra-Asia memberikan bantalan ekonomi yang stabil bagi Indonesia karena berada di zona yang terintegrasi kuat.
"Dalam distribusi perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor Indonesia," ujar Muchtasyar dalam keterangan resminya, Sabtu (30/5/2026).
Sinyal positif ketahanan ekonomi ini tercermin dari realisasi arus peti kemas yang dilayani Pelindo hingga April 2026 yang mencapai 6,42 juta TEUs (Twenty-foot Equivalent Units). Angka ini tumbuh sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,99 juta TEUs.
Pertumbuhan kuantitas logistik tersebut ditopang oleh dua sektor utama. Pertama, segmen internasiona yang tumbuh signifikan hingga 11 persen, dengan rincian aktivitas ekspor naik 10 persen dan impor melonjak 12 persen.
Kedua, segmen domestik (antarpulau), tumbuh sekitar 4 persen, dipicu kenaikan aktivitas bongkar sebesar 5 persen dan muat 4 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas yang mencatatkan tren positif antara lain lemak dan minyak hewan/nabati (naik 7,95%), mesin mekanis (naik 9,26%), perlengkapan elektrik (naik 4,9%), serta produk kimia (naik 12,27%).
Sementara dari sisi impor, lonjakan besar terjadi pada sektor mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen serta produk kimia yang mencapai 36,31 persen. Struktur impor ini menegaskan bahwa kebutuhan sektor industri dalam negeri terhadap barang modal, mesin produksi, dan bahan penunjang manufaktur/hilirisasi nasional masih sangat tinggi.
Peningkatan arus peti kemas ini terjadi merata di sejumlah pelabuhan utama seperti Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Emas (Semarang), dan Tanjung Perak (Surabaya). Menariknya, arus logistik domestik ke wilayah Indonesia Timur juga menunjukkan grafik yang memuaskan.
Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan domestik 8 persen, didorong pengiriman barang ke wilayah timur. Pelabuhan Tanjung Perak, tumbuh 2 persen, ditopang rute pelayaran menuju Makassar, Kendari, dan Berau. Pelabuhan Makassar, mengalami pertumbuhan 7 persen yang dipicu oleh distribusi komoditas pertanian lokal seperti beras, jagung, dan palawija.
Muchtasar menegaskan, tren pertumbuhan ini membuktikan bahwa konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur di daerah masih menjadi pilar utama perekonomian nasional. Guna menjaga tren positif ini, Pelindo berkomitmen untuk terus menggenjot produktivitas terminal melalui digitalisasi layanan dan integrasi rantai pasok agar biaya logistik semakin efisien dan kompetitif.
(ANT/MAR)