JAKARTA, AFU.ID - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat menyentil pelaku industri pertambangan dan pemegang HGU tanaman industri yang dinilai masih abai terhadap kewajiban pemulihan lingkungan pascaoperasi.
Sentilan itu disampaikan Jumhur saat merespons paparan Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) Basuki Hadimuljono mengenai program penghutanan kembali bekas lubang tambang di kawasan Bukit Soeharto. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar terpusat di Jakarta, Sabtu.
“Banyak sekali kegiatan penambangan tidak dikembalikan,” kata Jumhur.
Jumhur menilai inisiatif OIKN memulihkan kawasan bekas tambang di sekitar IKN semestinya menjadi pengingat bagi pelaku industri tambang agar tidak lepas tangan setelah mengeksploitasi sumber daya alam.
Ia menegaskan, eksploitasi alam tanpa tanggung jawab restorasi merupakan pengabaian terhadap hak ekologis masyarakat sekitar tambang. Dampaknya bukan hanya merusak bentang alam, tetapi juga mengancam masa depan lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Menurut Jumhur, pemegang izin usaha pertambangan harus berkomitmen mengembalikan fungsi lahan, kualitas tanah, dan tutupan hutan yang rusak akibat aktivitas operasi.
“Bumi, dan lingkungan yang rusak sebaiknya dikembalikan lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala OIKN Basuki Hadimuljono mengatakan pemulihan tutupan hutan di bekas lubang tambang Bukit Soeharto menjadi bagian dari penataan kawasan penyangga IKN.
Basuki menjelaskan, penanaman pohon akan dilakukan secara masif di lahan-lahan kritis bekas galian tambang. Program tersebut dijalankan melalui kerja sama OIKN dengan Kementerian Kehutanan dan sejumlah pihak swasta yang sudah beroperasi di wilayah Kalimantan Timur.
Pemulihan lingkungan itu juga dilakukan bersamaan dengan transformasi ekosistem di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) seluas 17 hektare. Vegetasi monokultur eukaliptus mulai diganti menjadi hutan tropis heterogen untuk mendukung konsep IKN sebagai forest city.
Basuki menyebut kegiatan menanam pohon dan memilah sampah rumah tangga akan didorong menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat dan instansi pemerintahan di IKN. OIKN juga mengagendakan penanaman bibit pohon dan gotong royong setiap dua pekan sekali.
“Penanaman pohon di IKN akan menjadi lifestyle,” kata Basuki.
Ia menyebut, penanaman pohon di IKN telah berjalan sejak 2025. Hingga kini, lebih dari 19.000 pohon telah ditanam di lahan seluas lebih dari 17 hektare di KIPP.
“Kami ingin ini sebagai salah satu tiang pembangunan IKN menjadi forest city, bukan deforestasi,” tutur Basuki. (FAD)