JAKARTA, AFU.ID - Indonesia dan China membahas potensi kerja sama di bidang ekonomi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pembahasan itu mencakup peluang pasar digital Indonesia, pengembangan semikonduktor, hingga pemanfaatan teknologi untuk kendaraan listrik, kesehatan, dan pertanian. Pembahasan tersebut digelar dalam acara China-Indonesia Digital Economy Forum: From Vision to Action di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Forum itu diselenggarakan oleh Association of Indonesia-China Economic, Social and Cultural Cooperation (AICCC) dan China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, China. Ketua AICCC Sudrajat mengatakan forum tersebut merupakan bagian dari implementasi kerja sama ekonomi dan hubungan antarmasyarakat antara Indonesia dan China. Menurutnya, ekonomi digital menjadi salah satu fokus penting kerja sama masa depan.
“Hari ini adalah merupakan implementasi dari aspek ekonomi dan people to people contact. Tentu adalah ke fokus ekonomi di masa depan yaitu ekonomi digital, tapi bukan hanya soal teknologi, melainkan bagaimana memberdayakan masyarakat, menciptakan peluang, dan membentuk masa depan yang inklusif serta berkelanjutan,” kata Sudrajat dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Sudrajat menyebut jumlah pengguna ekonomi digital di Indonesia menjadi salah satu peluang besar. Namun, ia menekankan peluang tersebut tidak hanya dilihat dari sisi pasar, tetapi juga dari manfaatnya bagi masyarakat. “Pengguna ekonomi digital di Indonesia sangat besar, ini jadi salah satu peluang tapi bukan hanya jadi pasar, melainkan bagaimana menjadikannya untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Wakil Presiden CDI Guo Wanda mengatakan besarnya jumlah penduduk muda Indonesia dan meningkatnya penetrasi internet membuka ruang kerja sama digital antara Indonesia dan China. Menurut Guo, transformasi digital di berbagai sektor menjadi kebutuhan yang dapat membuka sinergi baru kedua negara, terutama dalam pengembangan teknologi digital dan AI. Dalam forum tersebut, Sudrajat juga menyampaikan bahwa AI menjadi salah satu prioritas strategis China dalam lima tahun ke depan.
Teknologi itu disebut akan diterapkan di berbagai sektor, termasuk lembaga think tank. “Kecerdasan buatan adalah salah satu prioritas strategis China dalam lima tahun ke depan. AI akan diterapkan secara luas dan memberdayakan berbagai sektor di China, termasuk lembaga think tank seperti kami, sehingga hal ini menjadi peluang bagi China maupun Indonesia,” kata Sudrajat.
Direktur Komunikasi Strategis Tencent, Fanny Liao, mengatakan penyebaran teknologi menjadi salah satu tujuan penting dari pengembangan AI. Menurutnya, ketika model bahasa besar atau large language model semakin terjangkau dan praktis, pengembang serta pelaku usaha akan semakin mudah menggunakannya.
Dosen ITB sekaligus Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), Trio Adiono, mengatakan semikonduktor dan AI telah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Trio menyebut Indonesia ingin berfokus pada industri semikonduktor fabless atau desain cip. Menurutnya, sektor tersebut memiliki pasar besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya.
“Industri yang ingin kami fokuskan adalah semikonduktor fabless, yaitu desain cip. Pasar industri ini sangat besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya. Kami ingin memperluas kerja sama dengan pihak lain, termasuk China, dan membangun jaringan dengan industri, pemerintah, akademisi, dan komunitas, baik di dalam negeri maupun internasional,” ucap Trio.
Trio menyebut ada tiga peluang kerja sama yang dapat dikembangkan Indonesia dan China. Pertama, kontrol baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Kedua, layanan kesehatan yang membutuhkan pengembangan AI berbasis kebutuhan lokal Indonesia. Peluang ketiga ialah pertanian cerdas. Menurut Trio, penerapan AI dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi sektor pertanian di tengah kebutuhan penguatan ketahanan pangan.
“China dapat berkontribusi melalui algoritma AI untuk analisis serta perangkat keras IoT dan sensor berbasis semikonduktor sementara Indonesia dapat menyediakan data tropis dalam jumlah besar dan tenaga kerja untuk implementasi,” kata Trio. Forum tersebut dihadiri sekitar 40 peserta dari Indonesia dan China. Mereka berasal dari lembaga pakar, pelaku industri, dan asosiasi terkait. (FAD)