JAKARTA, AFU.ID - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mendorong penguatan kerja sama dengan Junior Chamber International (JCI) untuk memperluas jejaring global dan membuka akses internasional bagi pengusaha muda Indonesia.
Ketua Badan Pengurus Pusat Hipmi Anthony Leong mengatakan pengusaha muda Indonesia harus mulai berani menembus pasar internasional di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat.
"Ke depan, pengusaha muda Indonesia harus berani go international," kata Anthony dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, pengusaha muda tidak cukup hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga harus mampu membangun jaringan internasional, memperluas pasar ekspor, dan masuk ke rantai bisnis global.
“Karena dunia usaha hari ini tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis, tetapi ditentukan oleh konektivitas, kolaborasi, dan jejaring global,” ujarnya.
Anthony menjelaskan, JCI merupakan organisasi kepemimpinan dan kewirausahaan muda terbesar di dunia yang berdiri sejak 1915 dan memiliki jaringan di lebih dari 100 negara dengan ratusan ribu anggota aktif dari berbagai sektor.
Ia menilai JCI memiliki kekuatan besar dalam membangun konektivitas internasional, jaringan bisnis lintas negara, pengembangan kepemimpinan, hingga akses kolaborasi global.
“JCI bukan sekadar organisasi networking biasa. JCI adalah ekosistem global leadership dan entrepreneurship yang sangat kuat. Banyak pemimpin dunia dan entrepreneur internasional lahir dari jaringan JCI,” katanya.
Anthony menyebut sinergi Hipmi dan JCI dapat membuka peluang konkret bagi pengusaha muda Indonesia, mulai dari business matching internasional, perluasan akses ekspor, promosi investasi, pertukaran entrepreneur muda, hingga pengembangan kapasitas kepemimpinan global.
“Kalau Hipmi kuat di dalam negeri dan JCI kuat di jaringan internasional, maka sinergi keduanya bisa menjadi akselerator lahirnya pengusaha muda Indonesia yang mendunia,” tutur Anthony.
Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi baru dunia karena didukung bonus demografi, pasar domestik yang besar, serta pertumbuhan entrepreneur muda yang terus berkembang.
Namun, menurut dia, tantangan utama saat ini adalah meningkatkan daya saing pengusaha muda Indonesia di tingkat global.
“Banyak pengusaha muda kita punya produk bagus dan kreativitas tinggi, tetapi masih kurang akses jejaring internasional. Karena itu Hipmi harus mulai membangun konektivitas global yang lebih kuat,” kata Anthony.
Anthony yang menjadi salah satu calon ketua umum BPP Hipmi pada Munas Juni 2026 itu menegaskan Hipmi harus berkembang menjadi platform internasionalisasi pengusaha muda Indonesia, bukan hanya organisasi networking domestik.
“Hipmi harus menjadi jembatan agar pengusaha muda Indonesia tidak hanya menjadi pemain lokal, tetapi mampu menjadi bagian dari rantai ekonomi global,” katanya.
Ia berharap kerja sama Hipmi dan JCI dapat melahirkan lebih banyak pengusaha muda yang mampu membawa produk Indonesia masuk ke pasar dunia sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi global.
“Kalau pengusaha muda Indonesia terkoneksi secara global, maka ekonomi Indonesia juga akan menjadi jauh lebih kuat,” kata Anthony. (FAD)