JAKARTA, AFU.ID — Piala Dunia 2026 berakhir setelah Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 melalui babak tambahan waktu di East Rutherford, New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB. Ferran Torres mencetak gol penentu pada menit ke-106 sekaligus membawa Spanyol meraih gelar dunia keduanya. Di balik pesta kemenangan itu, Macquarie memproyeksikan nilai taruhan global selama turnamen melampaui US$50 miliar atau sekitar Rp885 triliun. Nilai tersebut merupakan perkiraan seluruh uang yang dipasang petaruh, bukan jumlah keuntungan bandar ataupun kerugian pemain.
Perjudian bola sering bermula dari nominal kecil yang dianggap sekadar menambah keseruan saat menonton pertandingan. Ajakan teman, grup percakapan, atau rasa yakin terhadap tim unggulan dapat membuat seseorang berani memasang uang. Taruhan kemudian tidak lagi terasa seperti perjudian karena dibungkus sebagai tebakan skor atau pembuktian pengetahuan sepak bola. Padahal, uang tetap dapat hilang karena hasil pertandingan tidak pernah sepenuhnya berada dalam kendali penonton.
Pengetahuan mengenai pemain, susunan tim, statistik, dan catatan pertemuan dapat menimbulkan keyakinan bahwa hasil pertandingan mampu diprediksi secara tepat. Seseorang yang sering menonton bola bahkan dapat merasa memiliki peluang menang lebih besar dibandingkan orang lain. Keyakinan itu dikenal sebagai ilusi kendali, yaitu kondisi ketika seseorang melebih-lebihkan kemampuannya memengaruhi atau memperkirakan hasil yang tidak pasti. Satu gol bunuh diri, cedera, kartu merah, atau keputusan wasit tetap dapat mengubah pertandingan dalam hitungan detik.
Emosi juga membuat keputusan berjudi lebih mudah diambil tanpa pertimbangan panjang. Pendukung sebuah tim dapat memasang uang karena loyalitas, sementara penonton lain tergoda setelah melihat perubahan skor atau peluang kemenangan. Kehadiran taruhan langsung membuat uang bisa dipasang melalui telepon genggam ketika pertandingan masih berjalan. Jarak antara keinginan sesaat dan hilangnya uang akhirnya hanya sepanjang beberapa sentuhan pada layar.
Masalah membesar ketika petaruh berusaha mengembalikan uang yang telah hilang. Kekalahan pada satu pertandingan dianggap dapat ditutup dengan kemenangan pada laga berikutnya sehingga jumlah taruhan terus ditambah. Kemenangan kecil membuat seseorang merasa strateginya benar, sedangkan kekalahan sering dianggap hanya sebagai nasib buruk. Kebiasaan mengejar kerugian tersebut dapat menguras tabungan, uang belanja, bahkan dana yang seharusnya digunakan membayar kebutuhan keluarga.
Risiko itu terasa dekat dengan masyarakat Indonesia karena sebagian besar pemain judi online berasal dari kelompok berpenghasilan rendah. PPATK mencatat 1.066.000 pemain judi online pada kuartal pertama 2025 dan sebanyak 71 persen di antaranya berpenghasilan kurang dari Rp5 juta per bulan. Data tersebut menunjukkan uang yang dipertaruhkan bukan selalu berasal dari orang dengan kondisi keuangan berlebih. Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, kehilangan puluhan atau ratusan ribu rupiah saja dapat mengganggu belanja harian, biaya sekolah, dan pembayaran tagihan.
Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan perjudian dapat menimbulkan tekanan keuangan, kerusakan hubungan keluarga, gangguan kesehatan mental, dan berbagai persoalan sosial. Tanda bahaya muncul ketika seseorang mulai menyembunyikan pengeluaran, meminjam uang, mengabaikan kebutuhan rumah, atau terus bermain meski sudah rugi. Kebiasaan tersebut tidak lagi dapat disebut hiburan apabila seseorang kehilangan kendali atas waktu dan uangnya. Dampak perjudian juga dapat dirasakan pasangan, anak, serta anggota keluarga lain yang tidak pernah ikut memasang taruhan.
Berakhirnya Piala Dunia tidak otomatis menghentikan kebiasaan berjudi yang terbentuk selama turnamen. Pertandingan liga, kompetisi antarklub, dan turnamen lain akan terus menawarkan alasan baru untuk kembali memasang uang. Kemenangan sesaat mungkin terasa menyenangkan, tetapi kerugian berulang dapat meninggalkan utang jauh setelah peluit akhir dibunyikan. Sepak bola seharusnya tetap menjadi hiburan, bukan pintu masuk menuju masalah keuangan dan kehancuran keluarga. (RHU)