JAKARTA, AFU.ID — Keputusan Red Bull memasukkan Veda Ega Pratama ke jajaran atlet Blue and Silver mulai menunjukkan hasil nyata. Baru berusia 17 tahun dan menjalani musim debut di Kejuaraan Dunia Moto3, pembalap asal Gunungkidul itu kini mampu bertahan di posisi enam besar klasemen. Veda bahkan sudah dua kali naik podium dan mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berdiri di podium Grand Prix.
Veda resmi bergabung dengan program atlet Red Bull Blue and Silver pada awal musim 2026 setelah tampil menonjol di jalur pembinaan balap internasional. Status tersebut tidak membuatnya pindah ke tim balap Red Bull karena Veda tetap memperkuat Honda Team Asia di Moto3. Bagi Veda, bergabung dengan ekosistem Red Bull merupakan salah satu mimpi yang sudah ia miliki sejak kecil.
"Banyak mungkin yang bermimpi untuk menjadi atlet Red Bull Blue and Silver dan itu juga mimpi saya dari kecil. Dan ya, mimpi saya terwujud," kata Veda dalam keterangan saat bergabung dengan program tersebut pada Maret 2026. Ia mengatakan kesempatan itu justru membuatnya semakin bersemangat berlatih untuk mengejar target yang lebih tinggi.
Red Bull memiliki alasan kuat untuk melirik Veda. Pada Red Bull MotoGP Rookies Cup 2025, ia menjadi runner-up dengan tiga kemenangan, enam podium, dan tujuh kali finis empat besar. Red Bull bahkan menyebut Veda sebagai satu-satunya pembalap yang mampu secara konsisten menantang pemimpin kejuaraan pada musim tersebut.
Lompatan Veda ke Moto3 kemudian langsung menghasilkan kejutan. Pada balapan keduanya di Brasil, ia finis ketiga dan menjadi pembalap Indonesia pertama dalam sejarah yang naik podium dalam balapan Grand Prix kelas prototipe. Prestasi itu datang setelah pada seri pembuka di Thailand ia sudah menunjukkan kecepatan dengan finis kelima dan terlibat perebutan posisi depan.
"Saya tidak menyangka bisa meraih podium secepat ini, tetapi sekarang saya tahu saya bisa bertarung dengan grup depan, jadi saya ingin lebih," ujar Veda setelah podium Brasil. Hasil tersebut menjadi penanda bahwa ia tidak sekadar menjalani musim debut untuk belajar. Veda mulai menunjukkan kemampuan bersaing dengan pembalap yang lebih berpengalaman di barisan depan Moto3.
Podium Veda tidak berhenti di Brasil. Ia kembali mendapatkan posisi ketiga pada GP Prancis di Le Mans setelah Adrian Fernandez didiskualifikasi, membuat jumlah podiumnya menjadi dua. Di Jerez, Veda juga mampu melesat dari posisi start ke-17 hingga finis kelima sekaligus mencatat kecepatan tertinggi 222,2 kilometer per jam.
Performa lain yang mencuri perhatian terjadi di Brno. Veda berada dalam pertarungan kelompok depan dan membukukan best race lap 2 menit 04,524 detik sebelum menyelesaikan balapan di posisi kelima. Paruh pertama musim kemudian ditutup dengan finis kedelapan di Sachsenring yang mengantarkannya naik ke peringkat keenam klasemen Moto3.
Selepas jeda musim, Veda kembali membawa pulang poin dari GP Inggris di Silverstone. Memulai balapan dari posisi ke-15, pembalap nomor 9 tersebut mampu finis kesembilan setelah mengalahkan Matteo Bertelle dengan selisih hanya 0,075 detik di garis finis. Hasil itu membuat Veda tetap berada di posisi keenam dan hanya terpaut 18 poin dari Marco Morelli yang menempati peringkat kelima.
Catatan tersebut semakin menonjol mengingat Veda masih berstatus rookie. MotoGP menyebut kiprahnya pada paruh pertama musim telah melampaui ekspektasi, dengan kemampuan bersaing di kelompok depan meski harus menghadapi banyak sirkuit yang baru pertama kali ia datangi. Veda juga menjadi pembalap Honda dengan posisi terbaik di jajaran atas klasemen pada paruh pertama musim.
Perjalanan Veda menuju level dunia sendiri berlangsung bertahap. Ia merupakan juara Idemitsu Asia Talent Cup 2023 sebelum bersaing di Rookies Cup dan FIM JuniorGP, lalu mendapatkan kursi penuh bersama Honda Team Asia di Moto3 2026. MotoGP mencatat Veda mulai mengendarai minibike sejak usia lima tahun dan sudah mengikuti balapan sejak berusia enam tahun.
Kini tantangan Veda adalah mempertahankan konsistensi pada paruh kedua musim. Posisi enam besar, dua podium, dan sederet penampilan di kelompok depan belum membuat pembalap Indonesia itu meraih kemenangan pertamanya di Moto3. Namun, performa musim debutnya setidaknya mulai menjawab mengapa Red Bull berani memasukkan Veda ke dalam ekosistem atletnya: potensinya tidak berhenti di level junior, tetapi mulai terbukti di kejuaraan dunia. (RHU)