JAKARTA, AFU.ID — Jenazah pendaki asal Surabaya, Maliya Finda (51), akhirnya tiba di rumah duka setelah berhasil dievakuasi dari jurang kawasan Punggung Naga, Gunung Piramid, Bondowoso, Jawa Timur. Korban ditemukan meninggal dunia bersama pemandu lokal Irfan Nasrul Laili (35) usai terjatuh ke jurang sedalam 70 meter. Setelah proses evakuasi yang berlangsung selama 13 jam, jenazah Maliya dibawa ke Surabaya sebelum diberangkatkan ke Lamongan untuk dimakamkan.
Jenazah Maliya tiba di kediamannya di Jalan Cipunegara, Wonokromo, Surabaya, Kamis (6/8/2026) sekitar pukul 01.15 WIB menggunakan ambulans RS Bhayangkara Bondowoso. Kedatangannya disambut keluarga, kerabat, dan warga yang sejak beberapa hari terakhir menanti kepastian kabar korban. Setelah disemayamkan untuk dimandikan, disalatkan, dan disucikan, jenazah dijadwalkan diberangkatkan ke Babat, Lamongan, untuk dimakamkan.
Keponakan korban, Riris, mengatakan keluarga memutuskan memakamkan Maliya di kampung halaman keluarga besar di Lamongan. Ia mengungkapkan, keluarga masih tidak menyangka musibah tersebut, terlebih korban baru dua pekan lalu dikaruniai cucu pertama dari putri semata wayangnya. Warga sekitar mengenang Maliya sebagai sosok yang ramah dan gemar membantu sesama. Tetangganya, Heri, menyebut almarhumah kerap hadir ketika ada warga yang mengalami musibah dan tidak segan memberikan bantuan. "Beliau baik sama warga. Saat kakak saya meninggal dunia beberapa tahun lalu, beliau datang ke rumah kasih amplop (santunan) ke kami," kata Heri, dikutip dari Kompas.
Sebelumnya, Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi jasad Maliya dan Irfan dari medan ekstrem Gunung Piramid setelah operasi yang berlangsung sekitar 13 jam pada Rabu, 5 Agustus 2026. Kedua korban ditemukan di kedalaman sekitar 60 hingga 70 meter dengan posisi berdekatan di lereng berkemiringan sekitar 60 derajat. Ketua Tim SAR Basarnas, Jefri, menduga keduanya terjatuh secara bersamaan saat mencoba saling berpegangan, meski penyebab pasti masih menunggu hasil visum.
Operasi penyelamatan sempat terkendala kabut tebal, cuaca buruk, dan medan curam di jalur Punggung Naga yang dikenal berbahaya bagi pendaki. Setelah berhasil diangkat dari dasar jurang, kedua jenazah dibawa ke Posko SAR, kemudian ke RS Bhayangkara Bondowoso untuk menjalani visum sebelum diserahkan kepada keluarga masing-masing. Peristiwa ini kembali menjadi pengingat tingginya risiko pendakian di Gunung Piramid yang memiliki jalur sempit dengan jurang terjal di sisi lintasan. (RAI)